Wanita Sebagai Ibu Rumah Tangga, Kenapa ?

Wanita sebagai ibu rumah tangga kian terkikis oleh slogan emansipasi wanita. “Wanita sama dengan laki-laki”, padahal substansi derajat sebagai hamba Allah memang sama, tapi ada beberapa hal terutama terkait biologis berbeda, sehingga menyebabkan wanita memiliki posisi tersendiri yang mulia (baca: wahai wanita muslimah, kembalilah ke rumah).

Penulis memiliki teman, seorang wanita lulusan sebuah universitas ternama dengan predikat cumlaude. Lulus, dia lalu deterima bekerja di perusahaan IT bonafit dengan gaji puluhan juta rupiah setiap bulan. Belum lagi perusahaan sering menugaskan wanita tersebut terbang ke luar negri untuk menyelesaikan urusan perusahaan. Tergambar seolah kesuksesan telah dia raih. Orang tuanya bangga, melihat anak perempuannya sudah mandiri. Namun betulkah wanita teman saya itu merasa bahagia?

Lima tahun bekerja, seorang pria melamarnya. Pria mapan dengan gaji puluhan juta, memiliki rumah, dll. Walhasil, niat menikah untuk mendapat pendamping hidup mengurusi rumah, tak didapatkan. Bahkan pasangan suami istri ini jarang bertemu oleh kesibukan masing-masing. Dua tahun kemudian lahir putri mereka yang lucu. Apa daya, putri lucu itu harus diurus oleh baby sitter.

Tak ada kebahgiaan dalam kehidupan keluarga mereka. Suami pulang kerja, tidak mendapatkan istrinya di rumah, anak dalam asuhan orang lain. Istri pulan dalm keadaan capek, penat, dan tidak bisa melayani suami dengan baik. Cekcok tidak bisa dihindari. Dan akhirnya, mereka memutuskan bercerai. Apa yang salah?

Kita tidak mungkin langsung menjustifikasi kalau perceraian mereka karena kesalahan istri. Tapi kita juga keliru kalau tidak menjadikan hal itu sebagai sebuah pertimbangan. Kebanyakan orang akan beranggapan sukses lebih dinilai dari segi materi sehingga jika ada sesuatu yang tidak memberi nilai materi akan dianggap remeh. Cara pandang yang demikian membuat banyak dari wanita muslimah bergeser dari fitrahnya. Berpandangan bahwa sekarang sudah saatnya wanita tidak hanya tinggal di rumah menjadi ibu, tapi sekarang saatnya wanita “menunjukkan eksistensi diri” di luar. Menggambarkan seolah-olah tinggal di rumah menjadi seorang ibu adalah hal yang rendah. Padahal, itu keliru duhai sahabat muslimah.

inah (6)Ini hanya masalah cara pandang. Kenapa wanita muslimah tidak bangga ketika ditanya “Sekarang kerja dimana?”, lalu menjawab “Saya adalah ibu rumah tangga”. Perlu diingat, wanita sebagai ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang sangat mulia. Membutuhkan keahlian tersendiri yang sulit didapatkan di jenjang pendidikan formal. Wanita sebagai ibu rumah tangga mendapat hasil dari apa yang dikerjakannya bukan dalam bentuk uang tunai secara langsung, tapi mengelola apa yang didapatkan suaminya.

Sahabat muslimah, jika Andaingi berbuat baik, maka ada dua yaitu perbautan secara lahiriah, dan itu dilakukan laki-laki. Kedua, perbuatan perbaikan masyarakat di balik layar, yaitu perbaikan yang dilakukan di dalam rumah. Sebagian besar peran ini diserahkan pada kaum wanita sebab wanita merupakan pengurus rumah. “Dan hendaklah kalian tetap di rumah…” (QS. al-Ahzab: 33).

Banyak yang bisa dilakukan para wanita di rumah, misalnya mendidik anak. Seorang wanita mengambil jatah besar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi. Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya (baca: agar anak rajin membaca al-Quran).

Sejatinya, wanita bangga melihat anak-anaknya tumbuh dengan baik dari sisi fisik dan mental. Butuh seorang pendidik yang ulet dan telaten. Bersungguh-sungguh, dengan tekad yang kuat. Mendidik dengan rasa dan cinta, dan itu ada pada seorang wanita.

Wanita sebagai ibu rumah tangga juga mendapat porsi besar dalam menetralisir suasana dan keharmonisan keluarga. Saat suami pulang dari kerja, wanita menyambut dengan senyum. Hal sederhana namun nilainya mahal. Saat suami akan berangkan bekerja, istri mengantar sampai di pintu dengan cinta. Sepele, namun inilah yang menjaga keharmonisan rumah tangga. Rumah teratur, bukan oleh tangan pembantu memberikan nuansa tersendiri dan menjadi semangat buat suami untuk bekerja lebih giat.

Akhirnya, mari kita kembalikan ke kesadarn kita, akan kelebihan seorang wanita. Wanita yang memiliki perasaan lembut lebih dari pria, wanita bisa memberi semangat, bisa menguatkan, bisa memotivasi, kiranya digunakan sesuai dengan peruntukannya. Wanita sebagai ibu rumah tangga, itulah yang terbaik.

Tags:
author

Author: 

I am a housewife. Has a husband and two sons. My job every day is as a teacher. I was born from a religious family, maintaining norms and decency. The habit of living above the norm is what makes me feel happy with my family.