Video SARA “Kristenisasi Muslim di Kelud” Beredar

Dunia maya kembali dikejutkan dengan ditemukannya video yang dianggap melakukan penyebaran agama tertentu. Video tersebut menampilan puluhan anak menyanyikan lagu pengenalan Yesus. Anehnya, puluhan anak itu melakukannya dengan mengenakan jilbab.

Melihat dari deskripsi video berdurasi 48 menit tersebut, kejadiannya masih terkait dengan pengungsi letusan gunung Kelud beberapa waktu lalu. “Astaghfirullah.. Anak-anak muslim yang mengungsi akibat letusan gunung Kelud. sedang diajarkan untuk mengenal Yesus,” Demikian deskripis video yang ditulis pemilik akun.

Video bernuansa SARA ini diunggah pertama kali oleh akun atas nama Save Moeslem. Sangat bernuansa SARA karena dalam video berjudul “Kristenisasi Muslim di Kelud” itu melibatkan anak-anak yang mengenakan jilbab sedang menyanyikan lirik pujian untuk Yesus secara bersama-sama (baca: perjuangan hidup anak shalehah).

Beragam komentar pengunjung yang melihat video itu, Hingga Selasa (23/9) pukul 17.15 WIB, video tersebut telah ditonton oleh 50 ribu lebih orang. Para penonton pun memberikan komentar yang beragam.

Para komentator melihat hal ini sebagai propaganda saja. Akun MrAiiManu misalnya, yang melihat video tersebut sebagai bagian dari upaya untuk memecah belah kerukunan beragama di Indonesia. “Jangan terpancing emosi. Ini video dilakukan orang2 yg ingin memecah kerukunan umat beragama di indonesia,” Tulisnya.

video sara, kristenisasi muslim kelud

Bukan hanya, MrAiiManu, beberapa akun lain pun menyatakan keraguannya terhadap video tersebut. “G‎​k percaya gue, ne dilakukan sma org2 yg G‎​k bertanggung jawab. Utk memecah persatuan. Islam cinta Damai,” ujar akun irfan prabu.

Seperti diketahui, dalam laporan yang dirilis Pusat Data dan Informasi, Badan Nasional Penaggulangan Bencana, pasca Gunung Kelud meletus, 4 orang dinyatakan tewas, namun jumlah pengungsi mencapai 56.089 Jiwa. Jumlah yang membutuhkan pertolongan yang tidak sedikit.

Tags:
author

Author: 

I am a housewife. Has a husband and two sons. My job every day is as a teacher. I was born from a religious family, maintaining norms and decency. The habit of living above the norm is what makes me feel happy with my family.