Ummu Sulaim binti Malhan: Penerima Mahar Paling Mulia

Sesuai dengan perintah Allah yang tertera dalam al-Quran surat an-Nisa’ (surat ke-4) ayat 4: wa atun nisa’a ṣaduqatihinna niḥlah (tan), fa in ṭibna lakum ‘an syai’im minhu nafsan fakuluhu hani’am mari a(n), yang isinya kurang lebih mengenai kewajiban pria dalam memberikan mahar atau mas kawin kepada sang calon istri yang akan dinikahi.

Mahar yang diberikan biasanya berupa perlengkapan sholat atau mukena, al-Quran dan/ atau hadist, sejumlah uang, atau perhiasan yang memiliki suatu nilai dan arti atau makna tersendiri. Seperti mas kawin dari pernikahan salah satu muslimah muda paling menginspirasi di Indonesia, Oki Setiana Dewi, misalnya, berupa 12 gram emas yang mewakili tanggal pernikahan keduanya yaitu 12 Januari, 10 dinar yang bermakna 10 Rabiul Awal, dan uang 1 juta rupiah yang dimaknai sebagai bulan 1 yaitu bulan Januari. Biasanya mahar tidak sebatas berapa banyak harta benda berharga yang diberikan, namun lebih kepada makna yang terkandung dalam mahar tersebut.

Salah satu penerima mahar yang sangat bermakna adalah Ummu Sulaim binti Malhan. Apa mahar mulia tersebut? Uang kah? Emas berlian kah? Tidak. Mahar Ummu Sulaim binti Malhan ketika dinikahi oleh Abu Thalhah berupa keislaman dari calon suaminya itu.

Perempuan muslimah nan sholehah ini bernama lengkap Rumaisha’ Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin Adi bin Naja al-Anshaiyah al-Khazrajiyah. Beliau adalah ibunda daripada Anas bin Malik, pelayan atau Khadam Rasulullah. Cantik parasnya dan baik budinya, Ummu Sulaim pun diberkahi pemikiran yang kritis dan ketegasan serta ketabahan hati. Benar-benar tipikal muslimah yang sangat patut didamba.

Ummu Sulaim merupakan satu dari sekian banyaknya orang yang termasuk ke dalam golongan pertama pemeluk agama Islam. Yang menjadikannya istimewa adalah Ummu Sulaim ini merupakan muslimah generasi pertama yang berasal dari kaum Anshar. Beliau dengan penuh ketegasan berani meninggalkan kepercayaan lamanya tanpa menghiraukan gejolak penolakan dari masyarakat kafir jaman jahiliyah. Hal ini yang membuatnya ditinggalkan oleh suami pertamanya: Malik ibn Nadar. Namun, hal ini tak kemudian membuatnya meninggalkan Islam. Malah, hal mencenangkan dilakukannya ketika Abu Thalhah melamar dirinya.

Ketika jatuh cinta pada Ummu Sulaim yang cantik jelita, cerdas, dan ber-akhlak mulia, Abu Thalhah masih kafir. Ditawarkannya mahar yang sangat berlimpah untuk menyenangkan hati Ummu Sulaim, namun ditolaknya. Beliau berkata: “aku seorang muslimah sedang kau orang kafir, maka tak layak diriku menjadikanmu imam bagiku”. Hal ini membuat Abu Thalhah murka, namun karena cintanya maka kembali ia melamar Ummu Sulaim. Tatkala Abu Thalhah menanyakan apa yang ia inginkan sebagai mahar, Ummu Sulaim menjawab dengan tenang bahwa yang beliau inginkan hanya sang calon suami pergi menghadap Nabi Muhammad saw dan memeluk Islam.

Penerima Mahar Mulia

Sekiranya di masa sekarang banyak perempuan yang gila harta dan menginginkan mahar atau mas kawin sebanyak-banyaknya, maka patutlah kita mencontoh apa yang diputuskan dan dilakukan oleh sang muslimah sholehah. Sesungguhnya harta hanyalah titipan dari Allah swt sedang keimanan dan ketaqwaan terhadap-Nya lah yang akan kita bawa kehadapan-Nya.

Tags:
author

Author: 

I am a housewife. Has a husband and two sons. My job every day is as a teacher. I was born from a religious family, maintaining norms and decency. The habit of living above the norm is what makes me feel happy with my family.