Tuntunan Memberi Nama pada Anak; Lengkap

Al-Ism, yang berarti nama, berasal dari al-Wasm yang berarti pertanda atau lambang. Kadang juga dari kata al-Sumuw yang artinya tinggi. Dengan demikian tujuan nama berdasarkan arti dan asal kata nama itu, adalah pertanda untuk menujukan ketinggian pemakai nama.

Antara seseorang dengan namanya memiliki keterkaitan, makanya keliru menganggap “apalah arti sebuah nama”. Olehnya, jika bayi lahir, maka sebuah anjuran menetapkan kemuliaan bagi anak dengan memberikan nama kepadanya. Nama yang tegas, membuat orang yang mendenganrnya merasa tegas. Demikian pula sebaliknya.

Cara yang paling mudah mengambil nama adalah nama diambil dari orang saleh, nama Nabi dan Rasul. Nama itu pasti tidak ada kekeliruan lagi di dalamnya (baca: nama baik dalam Islam).

Setidaknya, dalam memilih nama, ada beberapa pertimbangan, pertama, nama yang singkat dan mudah diingat, maknanya bagus, tidak makruh dan tidak diharamkan.

Suatu hari Nabi saw bertanya kepada Sa’id bin Musayyab, “Siapa namamu?”. Ia menjawab “Namaku huzn (kasar atau sedih).” Nabi saw kembali bersabda, “Ganti namamu dengan nama sahl yang artinya mudah.” Ia berkata, “Aku tidak akan menukar nama yang telah diberikan oleh ayahku.” Ibnu Musayyab berkata, Sejak saat itu sifat kasar senantiasa ada di keluarga kami.” (HR. Bukhari)

Waktu pemberian nama sebaiknya dilakukan pada hari lahir, meski sudah dapat direncanakan sebelum hari kelahiran. Boleh juga memberikan nama pada hari ketujuh, hari akikah anak, “Setiap bayi tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh, dicukur rambutnya dan diberi nama pada hari itu juga.” (HR. Abu Daud, an-Nasai, Ibnu Majah)

Sahabat muslimah. Lalu bagaimana cara memberikan nama kepada anak dengan nama yang baik? Pada dasarnya semua nama baik jika mengikuti tuntunan memberi nama pada anak tadi, semua baik kecuali nama yang dimakruhkan dan nama yang diharamkan. Adapun nama yang dimakruhkan adalah;

Pertama, makruh memberi nama anak yang mengandung arti keberkahan, kebaikan atau yang menimbulkan rasa optimis, seperti nama Aflaha (beruntung). Ulama berbeda pendapat akan hal ini, namun jika ini diyakini maka tujuannya agar tidak menimbulkan makna baru dalam penggunaan nama nantinya.

Misalnya adan bernama Aflaha yang berarti keberuntungan. Suatu hari anak ini dipanggil, “mana Aflaha?” lalu dijawab, “Tidak ada”. Nah rentetan inilah dikhawatrikan menjadi doa yang bermakna tidak ada keberuntungan.

Kedua, makruh memberi nama anak yang mengandung arti pujian terhadap diri sendiri, seperti nama Barrah yang berarti wanita yang baik dan berbakti. Muhammad bin Amr bin Atha berkata, “Aku memebri nama putriku Barrah. Lalu Zainab binti Abu Salamah berkata kepadaku,Rasul saw pernah melarang menggunakan nama ini. Dahulu aku bernama Barrah, lantas Rasul saw berkata kepadaku, Janganlah kalian memuji diri sendiri! Sesungguhnya Allah lebih mengetahui siapa yang baik di antara kalian.” (HR. Muslim).

Ketiga, dimakruhkan memberi nama dengan nama yang artinya memberi kesan jelek dan negatif. Seperti Marrah yang artinya pahit, Ghalin artinya mahal, dan lain-lain.

Keempat, dimakruhkan memberi nama dari orang fasik, pengumbar aurat, artis yang membawa kesesatan, serta nama dari orang zalim seperti Qaruun, dan lain-lain. Serta nama yang menujukan makna itu, makna jelek, fasik, dan seterusnya.

Ilustrasi

Ilustrasi

Adapun nama yang diharamkan digunakan untuk anak, oleh para ulama, yaitu;

Pertama, diharamkan memakai nama yang berarti penghambaan selain Allah. Seperti Abdul Syams, yang berarti hamba matahari.

Kedua, diharamkan memberi nama dengan sifat Allah, seperti ar-Rahman, ar-Rahiim, dan seterusnya. Boleh saja jika sifat Allah itu bergandengan dengan kata yang berarti hamba, misalnya Abdul Rahman. Atau bergandengan dengan kata yang tidak dimakruhkan

Ketiga, diharamkan memberi nama anak dengan nama Malikul Muluk (Rajanya Raja), Sulthanus Salathin dan Syahin Syah, dan lain-lain.

Keempat, diharamkan memberi nama anak dengan Sayyidun Naas, Sayyidul Kul, Sittul Kul sebagaimana diharamkan memberi nama dengan nama Sayyidu waladi Adam untuk selain Rasulullah saw.

Kelima, diharamkan memberi nama anak dengan nama berhala yang disembah seperti Isaaf dan Naailah.

Keenam, diharamkan memberi nama dengan nama orang-orang non arab yang menjadi ciri khas orang kafir, seperti George, Diego, dan lain-lain

Ketujuh, diharamkan memberi nama dengan nama-nama setan, seperti Khinzab, Iblis, dan lain-lain.

Demikian tuntunan memberi nama pada anak (baca juga: apalah arti sebuah  nama dalam Islam). Semoga dengan tuntunan ini bisa bermanfaat, memberi nama anak, keluarga, yang akhirnya nama itu menjadi doa bagi anak.

Tags:
author

Author: 

I am a housewife. Has a husband and two sons. My job every day is as a teacher. I was born from a religious family, maintaining norms and decency. The habit of living above the norm is what makes me feel happy with my family.