Tips Menghadapi Orang yang Berbohong

Bohong adalah mengungkapkan sesuatu berbeda dari fakta sebenarnya. Banyak orang menganggap bohong adalah hal biasa, padahal sebenarnya tidak sama sekali. Berbohong adalah perbuatan buruk yang selain berdampak buruk pada orang lain, tapi juga buruk bagi siapa yang berbohong.

Keburukan berbohong yang paling nyata adalah memancing kebohongan berikutnya. Siapa yang berbohong sekali, maka dia butuh beberapa lagi kebohongan untuk melindungi kebohongan yang pertama. Contoh; “kamu sudah menikah?”. Dijawab belum padahal sudah. Karena dijawab belum maka ditanya lagi, “kamu ingin menikah?” jawabanya pasti harus disesuaikan dengan jawaban pertama, dan itu pasti bohong lagi.

Begitu berbahayanya kebohongan, Nabi saw mengajarkan tips menghadapi orang yang berbohong. Suatu hari Zaid bin Aslam menyampaikan bahwa Khawat bin Jubair bercerita: “Kami bersama Rasulullah saw berhenti di Marr Adz Dzahran. Aku keluar dari tendaku, aku lihat para wanita yang sedang berbincang. Mereka membuatku kagum. Maka aku kembali dan mengambil tas. Darinya aku keluarkan pakaian yang bagus untuk aku pakai. Aku datangi mereka dan duduk bersama mereka.

Rasulullah saw terlihat keluar dari tendanya, dan bertanya: “Abu Abdillah apa yang membuatmu duduk bersama mereka?” Dalam keadaan Abi Abdillah menjawab: “Ya Rasulullah, untaku lepas. Aku sedang mencari tali kekangnya, tapi ia pergi. Akupun mengikutinya.”

Rasul kemudian melemparkan seledangnya kepadaku dan masuk ke antara pepohanan. Aku seperti bisa melihat putih perutnya di antara hijaunya pepohonan. Setelah selesai buang air, beliau pun berwudhu. Air nampak mengalir dari jenggotnya ke dadanya. Beliau mendatangiku dan bertanya: “Abu Abdillah, bagaimana kabar untamu yang lepas?”

Semakin lama, Nabi saw senantiasa bertanya kabar unta itu yang lepas. Abu Abdillah merasa tidak nyaman dan segera masuk ke kota Madinah, menghindari masjid dan menghindari duduk bersama Nabi saw, sampai akhirnya, “Demi yang mengutusmu dengan benar, unta itu tidak pernah lepas sejak aku masuk Islam.”

Dari kisah itu, terdapat hikmah sebagai tips menghadapi orang yang berbohong, yaitu, pertama: hadapi orang bohong dengan orang yang mempunyai wibawa. Wibawa seseorang mampu menghilangkan kebohongan dengan cepat. Seperti kalimat Khawat bin Jubair bahwa melihat Rasul, pancaran wibawa itu telah menegurnya tanpa kata.

Kedua: mengatasi orang yang berbohong, tidak perlu menjatuhkan harga dirinya. Tidak perlu mengatakan kebenaran pembohong di depan banyak orang. Dalam kisah, Rasul tidak menegur di hadapan para wanita itu, dan tidak mendesak dengan kalimat yang menjatuhkan, akhirnya kebohongan itu muncul sendiri.

Ketiga: Tanya berulang-ulang. Seorang yang berbohong akan kembali berbohong jika ditanyakan kepadanya terkait kebohongannya. Makanya, tanyakan hanya satu pertanyaan saja, agar orang yang berbohong itu merasa kalau kebohongannya diketahui.

Keempat: tunjukan kalau tidak ada masalah jika dia mengaku. Terkadang seorang yang berbohong, akan mudah mengakui kebohongannya jika dia merasa mampu menghadapi resiko mengakui kebohongan. Makanya, menghadapi pembohong harus dengan santai anggap tidak ada masalah setelahnya.

Kelima: biarkan jika tidak mengaku, dan akhiri dengan doa. Orang yang berbohong tidak perlu dipaksa mengakui kebohongannya. Biarkan Tuhan dengan perputaran alam yang akan menjawab di waktu yang ditentukan. Berdoalah agar akibat kebohongan itu tidak terlalu buruk baginya dan bagi orang lain.

Kejururan kadang dianggap pahit, padahal di baliknya Allah telah menyediakan sesuatu yang indah. Sebaliknya, kebohongan akan menyiratkan keindahan padahal di baliknya ada kepahitan yang besar. Tips menghadapi orang yang berbohong di atas, insya Allah manjur.

Semoga bermanfaat

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

I am a housewife. Has a husband and two sons. My job every day is as a teacher. I was born from a religious family, maintaining norms and decency. The habit of living above the norm is what makes me feel happy with my family.