Tausiyah dalam Balutan Kisah, Wanita Muslimah Di Ujung Zaman

Zaman, selalu saja menjadi kambing hitam akan segala hal yang menyangkut rusaknya moral. Sebenarnya tak ada yang berubah dengan zaman, karena zaman memang tak bisa merubah dirinya sendiri. Tapi, manusia itu sendiri yang berusaha mengubah zaman mereka. Rusaknya moral bukan karena zaman yang berubah, tapi karena memang kesalahan manusia itu sendiri yang tak mampu menjaga moral mereka. Di zaman yang mulai tak beraturan ini, maka tantangan bagi seorang wanita muslimah sangatlah besar. Jika mereka tak mampu menahan “rasa malu” yang mereka miliki, niscaya mereka akan di lahap oleh rakusnya arus zaman yang merayu dalam jurang kemaksiatan. Kisah wanita muslimah di ujung zaman, gambaran tauladan yang menunjukan perjuangan untuk mempertahankan iman.

Pagi itu, fatimah sedang termenung. Wajahnya tampak serius, matanya menerawang kosong ke ujung dunia yang tak mungkin sanggup dia lihat. Samar.. mungkin itu yang dia rasakan. Otaknya berfikir keras menerawang masa depan yang terbalut dalam semu. Lalu lalang manusia melewati jalanan berdebu yang membisu di depan rumahnya, membuat hatinya trenyuh semakin teriris akan kenyataan yang dia lihat.

“Zaman macam apa ini? Dunia macam apa ini? Apa yang sebenarnya mereka cari? Hingga mereka melupakan allah, dan mengejar dunia yang tak akan selamanya mereka miliki ”. Kata fatimah dalam hati.

Tak terasa air matanya meleleh membelah kedua pipinya. Di lihatnya adik kecil yang dia timang. Adiknya yang baru lahir menyapa dunia 6 bulan yang lalu. Ibunya meninggal dunia ketika melahirkan adiknya, ayahnya bekerja sebagai kuli panggul di pasar demi menghidupi keluarganya. Ekonomi yang melemah membuat fatimah harus berhenti dari pesantren, dan menetap di rumah untuk membantu mengurus adik kecilnya. Sungguh beban yang cukup berat bagi anak seusianya, sedangkan fatimah sendiri adalah seorang gadis yang baru menginjak usia 16 tahun.

“Lihatlah dik.. ini adalah zaman kakak berpijak. Jika kau tanya tentang moral, maka kau tak akan menemukan kemana moral itu di buang hingga hilang tak berbekas. Moral telah di ganti dengan kesenangan dunia yang merayu mereka untuk lupa akan kata DOSA”.

“Wahai adik kecil ku, kau adalah seorang wanita seperti ku. Jika pada zaman ku saja keadaan moral manusia sudah mulai punah dan rusak, kakak tak tahu lagi entah pada zaman apa engkau nanti berada”.

“Banyak orang yang lebih mementingkan hawa nafsu dari pada nurani, hingga kuatnya iman tak lagi mereka miliki. Ini adalah tantangan berat buat kita dik.. kita adalah seorang muslimah. Yang harus menjunjung tinggi norma agama dan rasa malu kita. Bukan malu pada mereka, tapi malu pada pencipta kita”.

“Mungkin kelak kau akan di cemooh karena penampilan mu berbeda. Ibarat seorang wanita berjilbab yang di ejek karena tak mengikuti arus zaman. Kuping mu harus tahan, hati mu harus lapang, dan iman mu harus tebal. Karena wanita berjilbab di zaman ini sudah mulai hilang. Berganti pakaian mini, rambut warna-warni, dan kehidupan bebas yang lupa kemana tempat mereka nanti kembali. KUBURAN, itulah tepatnya”.

“Wahai adik kecil ku.. Kita ini ibarat kisah wanita muslimah di ujung zaman. Yang mencoba mempertahankan rasa malu kita akan dosa. Yang berusaha menjadi wanita taat dalam alur dunia yang penuh maksiyat. Mungkin kita tak akan menjadi wanita yang modis, gaul, dan cantik di mata mereka, karena bagi mereka pakaian kita adalah pakaian kampungan tanpa gaya. Tapi jangan berkecil hati, kita tak butuh penilaian mereka. Karena yang memiliki syurga dan neraka juga bukan mereka”.

“Wahai adik kecil ku, jadilah wanita yang solehah, yang taat pada agama dan suami mu kelak. Taat bukan berarti kau lemah, karena ketika kau mampu mejaga dirimu, menjaga rasa malu mu, mejaga kepatuhan mu pada suami, dan menjaga iman dan taqwa mu pada allah, maka.. saat itulah kau akan di akui sebagai wanita hebat yang paling kuat. Kuat melawan arus zaman, kuat melawan godaan dunia, dan yang pasti.. kau kuat melawan nafsu dalam diri mu sendiri. Dan itu adalah kekuatan yang tak di miliki oleh sembarang orang”.

Tangis adik kecilnya membuat fatimah berhenti bergumam. Seakan gadis kecil itu tahu, bahwa adik kecilnya belum siap untuk beban berat seperti itu. Lalu dengan senyum fatimah mengayun adiknya dalam pelukan kecilnya. Sambil terus mengayun, fatimah berbisik pada telinga adik kecilnya..

“Jangan menangis dik.. kakak akan menemani mu. Kita akan membuat kisah wanita muslimah di ujung zaman kita sendiri. Dan isi kisah itu adalah.. tentang kita..”.

Tags:
author

Author: 

I am a housewife. Has a husband and two sons. My job every day is as a teacher. I was born from a religious family, maintaining norms and decency. The habit of living above the norm is what makes me feel happy with my family.