Cara Memakai Jilbab yang Benar

Memakai jilbab bagi wanita muslimah adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Jika seorang wanita keluar dari rumah apakah untuk shalat di masjid atau mengunjungi karib kerabatnya atau untuk bekerja yang sesuai dengannya dan yang boleh ia lakukan, maka ia wajib mengenakan jilbab.

Akhir-akhir ini, fenomena pemakaian jilbab, sedikit bergeser dari konsep menjalankan perintah. Sebenarnya sebagai langkah awal, bagi saya tidak masalah, asalkan sedikit demi sedikit, hal yang merupakan kekeliruan terutama dalam konteks memakai jilbab, dibenahi dan diperbaiki. Olehnya itu, kita harus mengetahui cara memakai jilbab yang benar;

Pertama: menutupi seluruh anggota badan selain yang dikecualikan. Firman Allah dalam surat an-Nuur: 31, yang artinya:

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung’.”

Juga firman Allah dalam surat Al-Ahzab: 59, berbunyi: “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.”

Kedua: pada dasarnya memaki jilbab harus dipahami sebagai bukan perhiasan. Tak bisa dipungkiri, kesan wanita memakai jilbab akan lebih ayu, manis dan lebih disukai oleh lawan jenisnya. Meski demikian, bagi memakai jilbab bukanlah untuk tujuan perhiasan. Adapun setelah memakai jilbab maka seorang wanita akan tampak lebih cantik, itu adalah bonus menjalankan perintah.

Secara umum firman Allah dalam surat al-Ahzab ayat 33: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu ….” Sudah menyebutkan hal itu. Tabarruj dalam ayat ini, adalah perilaku wanita yang menampakkan perhiasan dan kecantikannya serta segala sesuatu yang wajib ditutup karena dapat membangkitkan syahwat laki-laki (Fathul Bayan VII/19).

Ketiga: Kainnya jilbab tidak tembus pandang. Banyak mode jilbab, dan kainnya terbuat dari kain tipis. Hal itu tidak dilarang, atas tidak tembus pandang. Bukankah yang tipis tidak selamanya tembus pandang, dan terkadang jilbab dari kain tipi situ dikemas berlapis mengikuti trend.

Keempat: tidak sempit atau ketat. Aisyah ra berkata: “Seorang wanita dalam shalat harus mengenakan tiga pakaian, yaitu baju, jilbab dan khimar. Adalah Aisyah pernah mengulurkan izar-nya (pakaian sejenis jubah) dan berjilbab dengannya. (Ibu Sad VIII/71). Hal tersebut menguatkan pendapat mengenai wajibnya menyatukan antara khimar dan jilbab bagi kaum wanita jika keluar rumah. Memakai jilbab yang tidak sempit ini, kenyataanya masih jarang dilakukan.

Cara_memakai_jilbab_yang_benar

Kelima: Tidak menyerupai pakaian laki-laki. Beberapa hadis menunjukkan adanya larangan tindakan wanita menyerupai pria, begitu pula sebaliknya. Dari Abu Hurairah ra: “Rasulullah melaknat pria yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian pria.” (HR. Abu Daud).

Keenam: Bukan pakaian kebesaran (untuk popularitas). Ini yang terjadi pada banyak wanita tersangka korupsi. Memakai jilabab baginya adalah upaya pembentukan imej baru bergeser dari statusnya sebagai koruptor. Hadis Rasulullah saw: “Barangsiapa mengenakan pakaian (libas) syuhrah di dunia, niscaya Allah akan mengenakan pakaian kehinaan kepadanya pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api neraka.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).

Libas Suhrah adalah pakaian yang dikenakan dengan tujuan untuk mendapatkan popularitas di tengah-tengah orang banyak, baik pakaian tersebut mahal sehingga dapat berbangga diri dengan dunia dan perhiasannya mapun pakaian sederhana yang dipakai untuk menunjukkan kezuhudannya dan dengan tujuan riya (baca: fenomena jolboobs).

Enam cara memakai jilbab yang benar tersebut sekaligus menjadi syarat pemakaian jilbab, kirannya menjadi perhatian bagi wanita muslimah. Tampil cantik tidak dilarang, tapi alangkah eloknya seorang wanita dapat tampil cantik serta dapat menjalankan peritah agama dengan benar. Jilbab wanita muslimah hendaknya menutup seluruh badannya, kecuali wajah dan dua telapak tangan dengan perincian sebagaimana yang telah dikemukakan di atas.

Ketahuilah; Seburuk-buruk pria akan mencari wanita paling baik. Mari memakai jilbab menuju wanita yang baik. Semoga bermanfaat.

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

I am a housewife. Has a husband and two sons. My job every day is as a teacher. I was born from a religious family, maintaining norms and decency. The habit of living above the norm is what makes me feel happy with my family.