Shirin Ebadi Muslimah Peraih Nobel Perdamaian

Sejak awal Islam hadir adalah sebagai rahmat untuk seluruh alam. Artinya agama islam mengemban misi perdamaian tidak hanya bagi manusia tetapi juga bagi seluruh isi bumi. Ajaran islam tidak membiarkan terjadinya kedzaliman yang dapat merusak hubungan antar manusia. Di dalam Al-quran telah disebutkan, “Kalau mereka cenderung kepada perdamaian, maka sambutlah kecenderungan itu, dan berserah dirilah kepada Allah” (Surah Al-Anfal ayat 61)

Ayat di atas mengajak seluruh umat muslim untuk mencintai perdamaian tetapi tetap berhati-hati pada musuh yang berniat menghancurkan islam. Kaum muslim tidak dilarang untuk membela diri bila memang perdamaian itu harus diperoleh dengan jalan peperangan sekalipun.

Pejuang Muslimah Meraih Nobel Perdamaian

“Seni kehidupan adalah ketika kita berjuang dalam situasi yang sulit” (Shrin Ebadi)

Sebuah pernyataan tegas dari seorang ahli hukum, penulis sekaligus aktivis HAM, Shirin Ebadi yang menjadi muslimah pertama peraih nobel perdamaian. Shirin Ebadi lahir tahun 1947 adalah pejuang keadilan di Iran. Ia memperjuangkan Islam sebagai ajaran yang mengedepankan perdamaian bukan agama teroris yang dituduhkan oleh kaum reformis.

Shirin Ebadi yang aktif dalam gerakan-gerakan kemanusiaan yang melanggar HAM, pengacara bagi kaum yang ditindas di Iran, dan menjadi pembicara pada seminar-seminar internasional. Dirinya pernah dipenjara selama 15 bulan karena membantu keluarga korban yang terbunuh oleh kaum politisi yang ingin melengserkan sistem pemerintahan yang saat itu masih dipimpin oleh pemimpin agama.

Sumber: www.lapresse.ca

Sumber: www.lapresse.ca

Cobaan demi cobaan dilalui Shrin Ebadi, mulai dari diberhentikan secara paksa dari posisi hakim sampai kantor advokatnya ditutup karena dituduh sebagai penyebar isu yang dapat memicu konflik antara pemerintah dan rakyat Iran. Namun, seluruh masalah yang dihadapinya tidak membuatnya takut untuk tetap berjuang membela islam dan rakyat Iran. Walau ruang geraknya dibatasi, dirinya tetap aktif menulis dan berkampanye.

Kegigihannya membuahkan hasil, Shirin Ebadi mendapatkan nobel perdamaian di tahun 2003. Moment tersebut membuat dirinya semakin kritis pada pelanggaran HAM bukan hanya di Iran tetapi di seluruh dunia. Misalnya saja pada krisis kemanusiaan yang terjadi di Afganistan dan di Irak yang dilakukan oleh negara Amerika dan sekutunya.

Sosok Shirin Ebadi adalah cerminan dari wanita yang tangguh dan cerdas. Menurutnya, itu dimilikinya karena ia dibesarkan di Iran, negara yang mendiskriminasi hak-hak kaum wanita. Sehingga ia merasa harus berbuat sesuatu untuk mengangkat derajat kaum wanita di lingkungannya.

Setelah mendapatkan nobel, Shirin Ebadi mendedikasikan dirinya sebagai penngacara dan dosen di Universitas Teheran. Dari kisahnya, bisa diambil pelajaran bahwa seorang wanita bukanlah makhluk lemah. Wanita adalah makhluk dibekali dengan akal dan hati. Kegigihan dan kecerdasan wanita bisa mengubah dunia menjadi lebih baik. Berbanggalah menjadi seorang wanita dengan cara mampu menghargai diri sendiri.

Tags:
author

Author: 

I am a housewife. Has a husband and two sons. My job every day is as a teacher. I was born from a religious family, maintaining norms and decency. The habit of living above the norm is what makes me feel happy with my family.