Seputar Jabat Tangan dengan Lawan Jenis

Lucu juga mendengar obrolan tanteku dalam kendaran siang tadi. “Eh, masa Anu, membuat malu pak Anu. Semalam saat di pesta, pak Anu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, eh si Anu malah menghindar”. Segera disambut dengan cerita berbeda oleh tanteku yang satu, “Itu mah parah, kalau si Anu tidak menghindar, cuma bersidekap saja, sambil tersenyum”.

Masalah jabat tangan memang menjadi pembicaraan menarik, terutama jabat tangan dengan lawan jenis. Dalam lingkungan masyarakat secara umum, jabat tangan itu biasa, bahkan menjadi lambang keakraban biasa. Akan tetapi dalam artikel ini, akan menjurus pada pembahasan jabat tangan antara muslimah dengan lawan jenisnya.

Sebelumnya, mari kita lihat beberapa definisi jabat tangan menurut ulama. Menurut imama Malik ra, jabat tangan adalah meletakkan telapak tangan pada telapak tangan orang lain dan ditahan beberapa saat, selama rentang waktu yang cukup seperti lamanya menyampaikan salam.

Pendapat ini, mayoritas disepakati para ulama, hanya ada sedikit perbedaan namun bukan perbedaan mendasar. Seperti ibnu Hajar yang mengatakan, jabat tangan adalah melekatkan telapak tangan pada telapak tangan yang lain.

Ada beberapa keutamaan jabat tangan. “Tidaklah dua orang muslim bertemu kemudian berjabat tangan kecuali akan diampuni dosa keduanya selama belum berpisah.” Demikian sabda Nabi yang diriwayatkan imam Abu Daud. Dari hadis itu diketahui, bahwa jabat tangan bisa membuat terampuninya dosa seorang hamba.

Keutamaan lain dari jabat tangan adalah menghilangkan kebencian dalam hati, “Lakukanlah jabat tangan, karena jabat tangan bisa menghilangkan permusuhan.” Sabda nabi saw, yang diriwayatkan oleh Imam Malik .

Hukum jabat tangan adalah sunnah, dianjurkan dilakukan saat bertemu. Pendapat ini seperti yang dikemukakan an-Nawawi, al-Baththal, dan ulama lainnya. Akan tetapi, pendapat ini dibatasi hanya pada jabat tangan yang dilakukan antara sesama laki-laki atau sesama wanita.

Ilustrasi

Ilustrasi

Masalah jabat tangan dengan lawan jenis, menjadi perdebatan panjang. Dalam tulisan ini, akan kita bahas perbedaan pendapat seputar jabat tangan dengan lawan jenis menurut imam madzhab saja.

Ulama Mazhab Hanafi, membolehkan melakukan jabat tangan dengan persyaratan aman dari munculnya syahwat dari kedua pihak orang yang berjabat tangan. Sehingga mereka membedakan antara yang tua dan yang masih muda. Berdasarkan kemungkinan munculnya syahwat.

Ulama Mazhab Maliki, melarang jabat tangan, dan tidak membedakan antara yang sudah tua maupun yang masih muda.

Ulama Mazhab Syafi’i, Sebagian membolehkan jabat tangan dengan syarat adanya benda yang melapisi dan aman dari munculnya fitnah atau syahwat yang mengarah pada perzin4han. Sebagian yang lain melarang secara mutlak. Dan pendapat kedua ini adalah pendapat mayoritas kalangan ulama syafiiyyah

Ulama Mazhab Hambali, ada dua pendapat; pertama melarang secara mutlak tanpa membedakan antara yang muda, yang tua dan yang kedua memakruhkan jika dilakukan dengan yang sudah tua.

Sahabat Muslimah Indonesia, dari pendapat ulama madzhab tersebut jelas, tujuan utamanya menghindari dampak negatif syahwat, dan menjaga kehormatan muslimah (baca: kedudukan wanita dalam Islam). Anda mengikuti pendapat ulama yang mana, disilahkan, asal mengetahui tujuan utamanya.

Tags:
author

Author: 

I am a housewife. Has a husband and two sons. My job every day is as a teacher. I was born from a religious family, maintaining norms and decency. The habit of living above the norm is what makes me feel happy with my family.