Sejarah Perintah Memakai Hijab

Sebelum perintah hijab diwahyukan, ada sebuah kisah shahih dari Bukhari Muslim akan kebiasaan buang hajat orang-orang pada masa Rasulullah saw. Untuk mendapatkan air bersih dan mengalir sangatlah sulit untuk ditemui, daerah padang pasir sulit uuntuk menghasilkan mata air. Tak jarang para sahabat rasul dan orang-orang disekitar sering bersuci dengan cara bertayamum ataupun mandi junub dengan menggunakan debu. Jika sulit menggunakan air artinya belum ada toilet-toilet umum yang tersedia pada zaman itu.

Karena keterbatasan adanya air dan toilet modern dengan peradaban yang bisa dibilang masih kuno, pada masa itu mereka hanya menyediakan tanah lapang yang khusus digunakan untuk tempat membuang hajat. Cara membersihkan yang tepat saat membuang hajat dapat dilakukan dengan cara istinja’ atau membersihkan dengan tiga buah batu kering atau menggunakan tiga lembar daun kering. Dan istilah modern untuk zaman saat ini adalah dengan menggunakan gulungan kulit yang diproses menjadi serat-serat halus yang kita kenal dengan sebutan tissue.

Padahal jika kita pikir-pikir cara tersebut masih sama dengan cara yang dilakukan oleh para sahabat. Mengapa disebut dengan cara modern oleh orang-orang barat? Berbeda dengan kita orang timur yang merasa risih jika menggunakan dengan cara seperti itu, dan lebih memilih membersihkannya dengan menggunakan air rasanya lebih bersih dan nyaman.

Kira-kira apa ya hubungannya antara buang hajat dengan memakai hijab? Dari dua hal berbeda dan arti yang jauh berbeda. Kira-kira ada kaitannya tidak ya? Yuk tetap simak ya.

Pada zaman Rasul saw ada aturan yang mengharuskan para kaum perempuan untuk membuang hajat pada malam hari, sangat langit mulai terlihat gelap dan tidak banyak orang berkeliaran di malam hari. Pada saat itu sahabat rasul yang bernama Kholifah Umar bin Khattab memberikan satu gagasan kepada rasul. “Ya Rasul, bagaimana jika para wanita memakai hijab saat melakukan buang hajat”. Namun Rasulullah memilki pertimbangan dan pemikiran tersendiri dengan gagasan sahabat umar, sehingga rasul kurang menanggapi ide sahabat umar tersebut.

Dan pada suatu hari, salah satu istri Rasulullah saw yang bernama Saudah binti Zam’an keluar pada waktu malam kira-kira waktu itu nertepatan dengan waktu shalat Isya’ untuk buang hajat. Saudah memilki postur lebih tinggi dari pada wanita lain di wilayah tersebut, bukan memiliki maksud untuk mengintip, dengan postur tubuhnya ia mudah dikenali oleh para sahabat atau orang lain. Dan berkatalah saudara Umar “Hai Saudah aku sangat mengenal postur tubuhmu”.

Dan sejak saat itulah Allah mmenurunkan wahyu berupa perintah bagi kaum wanita untuk berhijab bagi kaum muslim yang dapt ditemukan di al-Quran. Begitulah

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

I am a housewife. Has a husband and two sons. My job every day is as a teacher. I was born from a religious family, maintaining norms and decency. The habit of living above the norm is what makes me feel happy with my family.