Pentingnya Pembinaan Akidah Terhadap Anak

Dalam pendidikan anak usia dini, umur di bawah lima tahun disebut fase kanak-kanak. Fase ini merupakan masa penting pembinaan akidah terhadap anak. Behitu pentingnya masa ini, sehingga seorang ibu muslimah, harus merelakan waktu panjang demi pembinaan akidah anaknya. Seorang ibu pastinya memanfaatkan masa ini sebaik-baiknya.

Karena masa itu adalah masa emas bagi perkembangan pengetahuan anak, maka hendaknya masalah penanaman akidah menjadi perhatian pokok bagi setiap orang tua terutama bagi ibu.

Seorang ibu harus memahami bahwa akidah terbagi dalam enam pokok keimanan yang disebut dengan rukun iman; kepada Allah, Malaikat, Kitab-kitab Allah, Rasul, Hari akhir, serta Qadha dan Qadar yang baik maupun yang buruk.

Alangkah rumitnya memberikan pemahaman terhadap enam perkara keimanan itu terhadap seorang anak. Penulis yakin, metode apapun untuk itu, pastinya tak akan bisa melaksanakan sesuai tujuan scara instant. Ibu muslimah akan merasa sulit, jika ingin meraih hasil seketika. Perlu dipahamai bahwa pembinaan akidah tidak seperti membalikan telapak tangan, maka dari itu harus dimulai sedini mungkin.

Satu pegangan kuat bagi para pendidik terutama ibu bahwa semua manusia dilahirkan dengan fitrah. Manusia lahir mengenggam kebenaran. Orang tua dan lingkungalah yang akan menentukan nasib kebenaran dalam genggaman anak itu, bertahan atau berubah.

“Dan (ingatlah) ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) ‘Bukankah Aku ini Rabb-mu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menajdi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah).’” (QS. Al-Αrof: 172).

Dengan demikian, tugas seorang ibu dalam memberikan pembinaan akidah terhadap anak hanyalah meneruskan dan mempertahankan fitrah yang dibawa oleh anak. Menanamkan keyakinan bukan dengan mengajarkan ketrampilan berdebat dan berargumentasi, akan tetapi caranya adalah menyibukkan diri dengan al-Quran dan tafsirnya, hadis dan maknanya serta sibuk dengan ibadah-ibadah. Kita perlu membuat suasana lingkungan yang mendukung, memberi teladan pada anak, banyak berdoa untuk anak, dan hendaknya kita tidak melewatkan kejadian sehari-hari melainkan kita menjadikannya sebagai sarana penanaman pendidikan baik itu pendidikan akidah maupun pendidikan lainnya.

Kita bisa belajar dai cara Lukman al-Hakim dalam mendidik dan membina akidah anaknya. Dia tidak memberi ruang berdebat, mencari sendiri, tapi langsung menaishati anak.

“(Luqman berkata): Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Luqman: 16).

Cukuplah apa yang diberikan Allah sebagai teladan yang kita jadikan teladan dalam hidup ini. Tinggal menfilter anak dari didikan lingkungan yang tidak benar.

Tags:
author

Author: 

I am a housewife. Has a husband and two sons. My job every day is as a teacher. I was born from a religious family, maintaining norms and decency. The habit of living above the norm is what makes me feel happy with my family.