Menyorot Aksi Rap Mayam Mahmoud

Sebuah kejadia menarik kalau tidak bisa dianggap memalukan muncul di Arab pada salah satu ajang musik. Seorang penyanyi rap yang mengaku sebagai muslimah melakukan aksi rap di panggung dengan menggunakan jilbab. Apa yang telah dilakukan oleh penyanyi rap tersebut telah menuai protes dari banyak pihak yang mengatakan bahwa islam memiliki kode etik terhadap wanita berjilbab yang harusnya tidak membawakan lagu sejenis rap di panggung.

Sebut saja namanya, Mayam Mahmoud. Wanita berjilbab ini, memiliki bakat menyanyi khususnya untuk rap, semenjak ia masih kecil yakni di usia delapan tahun. Sebagai salah satu penyanyi rap yang juga mengenakan jilbab, rasanya ada banyak hal yang perlu diungkapkan selain melihat satu sisi saja yakni etika saat mengenakan jilbab.

Teguran dan protes dilayangkan atas dasar rasa kecewa yang mendalam terhadap wanita yang satu ini. Sekilas, ya memang tidak salah jika muncul rasa protes tersebut. Mengingat memang tingkah wanita berjilbab harus dijaga. Tapi pertanyaan terbesarnya adalah apakah menyanyi rap di panggung dengan berjilbab sudah melanggar etika? Apakah menyanyi rap dengan menggunakan jilbab di panggung merupakan salah satu tingkah yang tidak bisa ditolerir?

Menurut penulis, kita tidak bisa secara langsung mengatakan dari satu sisi bahwa apa yang penyanyi tersebut lakukan telah melanggar nilai-nilai wanita dan jilbab itu sendiri layaknya kita tidak bisa menyimpulkan secara langsung bahwa pengguna jilbab itu sudah pasti berhati suci, sempurna dan masih banyak lagi mengingat saat ini kita tidak mengetahui latar belakang mereka atau juga niatnya dalam menggunakan jilbab itu sendiri. Akan sangat tidak adil jika kita langsung melihat sisi negatifnya pada penyanyi tersebut. Bukankah juga melihat sisi negatif seseorang tentu hal yang perlu kita koreksi dahulu daripada mengkoreksi orang lain?

Berlanjut tentang masalah kontroversi musik dan muslimah yang satu ini. Menurut pandangan penulis, kita perlu melihat apa yang menjadi niatan wanita tersebut. Pertama, hal yang perlu kita apresiasi sembari mengesampingkan apa yang telah ia lakukan dengan jilbab dan rapnya itu, Mahmoud mengatakan bahwa ia tidak bermaksud untuk menodai etika islam. Baginya yang telah mencintai rap sejak kecil adalah bahwa tugas menyanyi termasuk untuk rap yakni menyampaikan pesan kepada para pendengarnya dan yang patut untuk kita hargai adalah setiap lagu yang Mahmoud nyanyikan selalu bertajuk sosial. Ia selalu mengangkat lagu-lagu yang bertajuk deskriminasi gender, kekerasan seksual dan banyak lagi.

Selain itu, Mahmoud juga mengatakan bahwa Islam tidak pernah melihat latar belakang seseorang untuk mencintai Islam. Biarpun itu penyanyi dangdut atau rapper yang tampil menghibur dengan menggunakan jilbab itu bukanlah suatu kesalahan. Lagi, kita tidak bisa menilai kejelekan seseorang karena latar belakang kecintaannya pada musik yang bagi kita tidak pantas untuk menggunakan jilbab.

Namun, jika melihat dari sisi aturan keislaman dan etika, aksi rap Mayam Mahmoud tersebut jelas jauh dari etiket wanita muslimah sebenarnya. Bahwa wanita pun berhak berkreasi benar adanya, namun rambu-rambu kewanitaan yang kodrati juga tak mungkin dikesampingkan.

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

I am a housewife. Has a husband and two sons. My job every day is as a teacher. I was born from a religious family, maintaining norms and decency. The habit of living above the norm is what makes me feel happy with my family.