Kisah Wanita Muslimah dalam Memilih Calon Suami

Dalam islam, kita di ajarkan banyak hal untuk dapat mengarungi kegidupan di dunia fana ini. Berbagai nasehat, petunjuk, aturan, serta kisah-kisah yang terdapat dalam kitab suci al-quran memberi kita tauladan tentang berbagai cara agar kita hidup mulia di dunia dan akhirat. Tapi mayoritas umat islam terutama para muslimah sudah tak terlalu perduli akan hal ini. Kehidupan bebas dan kesetaraan gender selalu menjadi topik hangat yang di bicarakan. Belum lagi dukungan akan undang-undang HAM seakan memberi celah dan menyarankan akan artinya sebuah kebebasan. Tapi, kebebasan macam apa yang di inginkan oleh para wanita ini? Bukankah dari dulu mereka sudah di beri kebebasan, bahkan mereka di muliakan dalam ajaran islam.

Jika kita tengok lebih jauh akan makna kebebasan, banyak sekali yang islam berikan bagi mereka. Islam membebaskan muslimah dari pandangan maksiat kaum lelaki dengan menyarankan mereka berhijab. Padahal sudah jelas mereka mendapat manfaat lebih baik dengan mengikuti perintah ini. Jika saja ini terealisasikan, maka tak akan ada kasus pelecehan dan lain sebagainya. Tapi bertopeng kata “HAM” dan kesetaraan gender, para wanita modern malah menganggap ini sebagai “tali kekang” yang merenggut kebebasan mereka. Dalam hal jodoh juga demikian. Islam sudah memberi saran bagaimana cara mencari jodoh yang baik. Tak lain dan tak bukan tentu agar rumah tangga yang mereka bina bisa langgeng dan bertahan selamnya hingga tua. Tapi wanita modern lebih mementingkan apa yang di lihat mata dari pada mendengarkan kata hati. Mereka lebih memilih lelaki yang berprofesi sebagai anak band ketimbang mereka yang lulusan pesantren. Kata “Keren” adalah faktor utama yang membuat mereka lupa pada fitrah dari arti sebuah pernikahan.

Mungkin kisah wanita muslimah yang benar-benar mencari jodoh karena Allah, mencintai karena Allah, dan taat pada suami karena Allah, sudah bisa di bilang hampir punah di masa ini. Mungkin ada beberapa, tapi tak banyak dan hampir bisa di hitung dengan jari di antara sepersekian juta wanita yang ada. Jika kita tengok jauh ke masa lalu, kita akan dapat bercermin dari kisah muslimah-muslimah hebat yang memiliki kecintaan yang begitu besar kepada Allah dan agamanya. Mereka mencintai seseorang bukan karena wajahnya, bukan karena hartanya, bukan pula karena pangkatnya. Mereka memilih semata-mata karena Allah dan mencintai karena Allah pula. Karena mereka tahu, syurga seorang anak berada di bawah telapak kaki seorang ibu, tapi syurga seorang wanita terdapat pada ketaatan mereka kepada suami. Taat bukan merarti kehilangan hak untuk bebas. Allah telah menetapkan kodrat masing-masing pada wanita dan laki-laki. Mereka memiliki tugas dan kewajiban masing-masing. Seperti seorang suami yang di wajibkan mencari nafkah untuk anak dan isteri. Sedangkan isteri berkewajiban patuh dan taat pada suami. Apakah itu suatu hal yang kurang adil?

Mungkin akan ada wanita yang berkata” bagaimana kami bisa taat jika suami kami saja berbuat semena-mena kepada kami”. Itu terletak pada kesalahan wanita itu sendiri. Bukankah islam sudah mengajarkan bagaimana cara memilih jodoh yang baik? Yang paling utama adalah agama. Seseorang yang agamanya baik, pasti juga memiliki sifat yang baik pula. Karena mereka akan bertindak sesuai agama yang mereka pelajari. Islam sudah membagi hak-hak sesuai dengan porsi dan kedudukan masing-masing. Seorang suami memiliki hak untuk di patuhi, tapi memiliki tanggung jawab dan kewajiban yang lebih besar pula. Seorang suami harus mampu membimbing isterinya, mengingatkan isterinya, dan mengajar isteri tentang semua hal yang menyangkut agama. Jika suami tak melakukanya, maka Allah akan meminta pertanggung jawaban dari suami tersebut kelak di akhirat.

Begitu pula seorang isteri. Dia memiliki kewajiban yang cukup besar pula dalam sebuah rumah tangga. Melayani suami dengan baik, mendidik anak-anak mereka, dan melakukan semua hal yang menjadi kewajibanya di rumah. Tak ada kewajban bagi seorang wanita untuk bekerja mencari nafkah jika suaminya telah memberinya nafkah. Bahkan jika sang suami lalai dalam memberi nafkah, sang isteri dapat menuntut suami atas nafkah yang tak di berikanya. Tapi satu hal yang lucu di masa kini, banyak sekali para wanita yang menuntut untuk dapat bekerja. Kesetaraan gender selalu menjadi alasan mereka untuk ikut setara dengan derajat seorang pria. Padahal itu sesuatu hal yang tak mungkin, tapi mereka paksakan. Maka tak heran jika dalam al-quran di katakan bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah kaum hawa. Dan itu dapat kita lihat sebabnya di masa kita ini. Sekarang semua tergantung anda para muslimah. Anda ingin menjadi muslimah yang bagaimana? Ingin mendapat syurga atau neraka? Semua tergantung dari pilihan anda sendiri.

Tags:
author

Author: 

I am a housewife. Has a husband and two sons. My job every day is as a teacher. I was born from a religious family, maintaining norms and decency. The habit of living above the norm is what makes me feel happy with my family.