Kisah Ummu Umarah, Muslimah yang Berani Menahan Serangan Terhadap Rasulullah saw

Muslimah tampil lembut, dan cantik di hadapan suaminya, tapi tidak di depan musuhnya. Muslimah sejatinya tampi berani menghadapi musuhnya dalam membela kebenaran yang diyakininya. Hal ini dicontohkan Ummu Umarah, muslimah sahabat Nabi saw dari Bani mazim An-Najar.

Isteri dari Ghaziyah bin Amr adalah muslimah yang turut dalam peristiwa futuh makkah bersama umat Islam lainnya dari Madinah ke Makkah. Bersama suami dan anaknya, Abdullah dan Hubaib senantiasa membela kebenaran bersama Nabi saw bersama sahabatnya. Saking seringnya muslimah ini menunjukan keberanian berbeda dengan sahabat muslimah lainnya, Rasulullah saw pernah memujinya, “Siapakah yang sanggup melakukan seperti yang engkau lakukan, wahai Ummu Umarah?”

Keberanian Ummu Umarah yang paling dikenang dan tercatat dalam banyak buku sejarah adalah pada peristiwa perang Uhud. Saat itu, 7 Syawal 3 H / 22 Mac 625 M, 3000 lebih pasukan kafir Quraisy di bawah komando Abu Sufyan dengan persenjataan lengkap harus ditahan hanya dengan 700 pasukan tentera Muslim. Perang Uhud sendiri langsung dipimpin Rasulullah saw.

Saat itu pasukan muslim yang jumlahnya jauh lebih sedikit, dengan semangat berkobar berbenteng keimanan, sudah hampir mengalahkan tentara kafir Quraisy. Saat itu Nabi saw, memerintahkan kepada bala tentara kaum muslimin agar jangan sama sekali meninggalkan daerah pertahanan masing-masing, karena kemenangan sudah di depan mata.

(baca: kisah perawat dipecat karena berhijab. Kasihan)

Fakta berbica lain, bala tentara muslim yang sudah keletihan terpengaruh dengan kemilau rampasan perang yang ditinggalkan pasukan kafir Quraisy. Mereka lalu meninggalkan area pertahanan masing-masing, melupakan perintah Rasulullah saw. Siapa sangka, pasukan kafiriin balik menyerang pertahanan kaum muslimin yang sudah ditinggalkan. Kemenangan berbalik. Pasukan muslim kocar kacir. Bahkan, pusat tentara kaum muslimin, area Nabi saw mulai dimasuki musuh.

ummu umarah sahabat nabiMelihat hal itu, Ummu Umarah, bersama suami dan anaknya, berdiri tegak di depan bersama Nabi saw, pantang mundur menangkis serangan musuh yang mengalir bak air bah. Padahal awalnya tugas Ummu Umarah hanya sebagai jururawat tentara muslim yang cedera serta menyediakan minuman. Namun kondisi tentara muslim yang kocar kacir, membuatnya turut berani angkat senjata.

Pasukan muslim benar benar terjepit, tentara yang mengejar rampasan perang dan mengindahkan perintah Nabi saw tak kunjung kembali. Dengan penuh keberanian, Ummu Umarah menghadang laju tentera kafir yang berniat membunuh Nabi Muhammad saw. “Saya menangkis segala serangan yang datang ke arah Rasulullah dengan pedang saya,’” kisah Ummu Umarah seperti dituturkan Ibnu Sa’ad dalam kitab Thabaqat.

(baca: arsitek muslimah terbaik dunia)

Salah satu panglima kafir Quraisy waktu itu adalah Ibnu Qumai’ah. Dia hampir saja mencapai tempat Rasulullah berada. Datanglah Umamu Umarah dengan semangat dan keberanian yang tinggi, dia menangkis serangan Ibnu Qumai’ah dengan pedang yang dipungutnya.

Apabila melihat seorang tentera Muslim yang terdesak, Rasulullah saw pun berkata, “Berikan senjata kepada orang yang sedang berperang.” Ummu Umarah pun lalu mengambil pedang yang dilemparkan tentera yang lari tersebut dan akan melindungi Nabi saw dari gempuran musuh.

Semangat dan keberanian Ummu Umarah tidak hanya pada perang Uhud. Masih banyak perang lainnya seperti perang Hunain. Muslimah yang berani ini mengajarkan kepada kita sebuah perjuangan bagaimana seorang muslimah menunaikan kewajibannya sesuai dengan kemampuannya, baik di waktu perperang maupun di waktu yang aman.

Semoga kisah Ummu Umarah bisa menginspirasi kita semua… Amiiin ya Rabbal Alamiin

Tags:
author

Author: 

Seorang muslimah yang bercita-cita menjadi shalehah. Berusaha dan terus berusaha