Kisah Syahidah Pertama Sumayyah Binti Khayyat

Diantara wanita muslimah, pasti ada yang menginginkan pahala mati syahid. Mati karena berjuang di jalan Allah swt akan mendapatkan kemuliaan di sisi-Nya seperti sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, “ Allah menjamin bagi orang yang berperang di jalan-Nya; dia tidak keluar kecuali untuk jihad di jalanKu dan dia beriman kepadaKu dan membenarkan para rasulKu, maka Aku menjamin akan memasukkannya ke dalam syurga atau mengembalikannya pulang ke rumahnya dengan pahala dan harta rampasan perang.”

Sungguh besar balasan yang diberikan Allah bagi para syahidah, tetapi syurga yang dijanjikan Allah tentunya harus didapatkan dengan perjuangan sungguh-sungguh. Mati syahid bukanlah hal mudah. Hanya yang memiliki keimanan kuat yang sanggup melakukannya. Seperti kisah wanita muslim yang syahid pertama kali bernama Sumayyah Binti Khayyat.

Keteguhan Imannya Berbuah Syahid…

Sumayyah Binti Khayyat hanya seorang budak wanita dari Abu Hudzaifah bin Mughirah yang kemudian dinikahi oleh pemuda bernama Yasir. Keduanya hidup harmonis dan mendapatkan dua nak laki-laki bernama Ammar dan Ubaidullah.

Keluarga kecil Sumayyah Binti Khayyat mulai mengenal Islam dari Ammar. Ammar yang pertama kali memeluk Islam kemudian menceritakannya pada kedua orang tuanya. Ajaran Rasulullah disampaikannya dengan penuh keyakinan, hingga Yasir dan Sumayyah terbuka hati dan pikirannya untuk ikut memeluk Islam.

Mendengar keluarga Sumayyah memeluk Islam, penguasa di kala itu Bani Makhzum murka dan memerintahkan pasukannya untuk menangkap seluruh anggota keluarga Sumayyah. Mereka pun ditangkap dan disiksa dengan kejam. Pasukan yang dipimpin oleh pangliman Abu Jahal memaksa Sumayyah dan keluarganya untuk meninggalkan Islam sebagai agamanya. Tetapi Sumayyah menolak denga tegas, baginya Allah adalah satu-satunya Tuhan yang ia sembah. Darah Abu Jahal mendidih melihat keteguhan hati Sumayyah dan keluarganya. Abu Jahal kemudian membuang mereka ke padang pasir yang kering dan panas. Dada Sumayyah ditindis dengan bongkahan batu, tetapi beliau tetap menyebut nama Allah sambil merintih.

Tidak berhenti penyiksaan terhadap Sumayyah, Abu Jahal lalu menusukkan tombak yang digenggamnya ke dalam kemaluan Sumayyah hingga tewas. Keimanan Sumayyah yang tidak goyah walau mendapat siksaan berat dari penguasa menjadikannya sebagai wanita muslim pertama yang merasakan mati syahid. Rasulullah SAW telah menjamin syurga adalah tempat sumayyah, “Bersabarlah, wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya tempat kalian adalah surga.”

Sumayyah

Begitulah perjuangan seorang budak wanita yang imannya tidak dapat diambil oleh penguasa sekalipun. Apakah keimanan kita sudah sekuat Sumayyah? Apakah diri kita sudah siap dengan beratnya ujian Allah? Bisakah kita mempertahankan aqidah ini?

Semuanya tergantung pada bagaimana cara kita meningkatkan kualitas iman, karena iman adalah perisai. Seberat apapun cobaan hanya iman yang membuat lisan selalu menyebut nama-Nya, membuat hati teguh untuk tetap menyembah-Nya.

Tags:
author

Author: 

I am a housewife. Has a husband and two sons. My job every day is as a teacher. I was born from a religious family, maintaining norms and decency. The habit of living above the norm is what makes me feel happy with my family.

One Response

  1. author

    Bob1 year ago

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wa batkaaaruh,Akhiy, ana sedikit koreksi, untuk terjemahan di awal artikel ini AN NAHL (16:116), mohon diperbaiki: .ini halal dan ini karam yang benar adalah .ini halal dan ini HARAM .Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa batkaaaruh,ham

    Reply

Leave a Reply