Kisah Muslimah yang Taat pada Suami

Ketaatan seorang isteri pada suami adalah surga yang di janjikan Allah kelak di hari pembalasan. Kata taat memang mudah di ucapkan tapi hanya segelintir orang yang dapat melakukanya. Hal tersebut seakan membuktikan bahwa taat itu adalah hal yang cukup berat. Bahkan sudah hampir punah di zaman yang semakin maju ini. Kemajuan teknologi yang semakin pesat yang menjadikan kemunduran moral yang cukup memperihatinkan. Seorang muslimah yang taat di zaman ini sangatlah jarang, ibarat mencari mutiara di dalam lumpur yang cukup dalam. Terkadang, banyak sekali para kaum muslimah yang enggan taat pada suami karena takut di kira mereka lemah. Mereka takut sang suami akan menganiyaya mereka jika mereka menunjukan kelemahan yang mereka miliki. Inilah pemikiran yang di dapat para muslimah modern karena belajar dari sinetron-sinetron di tv. Mereka lebih suka menghabiskan waktu mereka di depan televisi dari pada mengaji. Mereka tak mau belajar dari para pendahulu-pendahulu mereka. Banyak sekali kisah-kisah wanita muslimah yang dapat mereka jadikan tauladan, tapi sayangnya itu tak menarik hati mereka. Mereka lebih menyukai ngerumpi bareng atau sekedar ngobrol membahas sesuatu hal yang tak jelas manfaatnya.

Wahai para muslimah.. aku ingin berbagi kisah dengan kalian. Hanya sekedar ingin mengingatkan, bahwa dahulu ada wanita muslimah teladan yang patut kalian tiru akhlaknya, dan kalian tiru tingkah lakunya. Seorang wanita muslimah yang sangat mengerti akan kata “taat” dan mencoba menjalaninya dengan kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa. Karena dia tahu, surga seorang wanita tergantung pada ketaatan mereka pada suaminya. Dan itu adalah balasan yang lebih baik dari pada dunia seisinya. Apakah kalian bersedia menyimak tentang kisah wanita muslimah yang berhati mutiara ini? Maka akan ku ceritakan..

Dahulu pada zaman nabi, ada seorang wanita yang baru menikah dengan seorng lelaki. Dan wanita itu pernah mendengar, bahwa surga seorang wanita berada pada ketaatan yang mereka berikan pada sang suami. Ridho sang suami adalah ibarat angin surga bagi mereka. Dan amarah sang suami adalah ibarat jilatan api neraka yang membara. Kerena seorang wanita tercipta dari tulang rusuk seorang pria. Hingga pada suatu hari, sang suami berpamitan untuk melakukan sebuah perjalanan untuk berdagang. Dan sang suami berpesan, dia tak boleh pergi meninggalkan rumah hingga sang suami datang. Adapun bahan makanan dan keperluanya, telah di siapkan untuk mencukupi selama suaminya pergi. Ternyata sang suami pergi lebih lama melebihi waktu yang di perkirakan, tapi sang isteri tetap setia menunggu dan mematuhi perintah suami. Isteri yang taat ini setiap hari berdo’a untuk keselamatan suami yang di cintainya.

Hingga pada suatu hari, datanglah sepupunya kerumahnya. Sepupu tersebut mengabarkan bahwa ayah wanita tersebut tengah sakit, dan dia di minta untuk datang menengoknya. Tapi dengan halus wanita tersebut menolak. Karena dia harus menunggu suaminya pulang untuk meminta ijin pada suaminya. Mendengar jawaban itu, sang sepupu pulang kembali kerumahnya. Dua hari kemudian, sepupu itu datang lagi, dia mengabarkan bahwa sakit yang di derita ayah wanita itu sudah semakin parah. Dia berharap wanita muslimah yang taat tersebut mau menengok ayahnya yang sudah sagat kritis. Tapi lagi-lagi wanita muslimah itu menolak dan memberi jawaban seperti yang pertama. Sang sepupu pun kembali ke rumahnya seperti kemarin. Dua hari kemudia, sepupu itu datang lagi. Dia mengabarkan bahwa ayah wanita itu telah tiada. Dan dia berharap waniita itu mau melihat ayahnya untuk yang terahir kali sebelum di makamkan. Dengan menangis dan menahan kesedihan yang mendalam, sang wanita muslimah itu tetap menolak. Dai memberi jawaban yang sama sebagaimana yang dia katakan pertama kali. Subhanallah.. bukankan ini suatu teladan luar biasa yang seharusnya membuat muslimah zaman ini memiliki rasa malu? Demi ketaatan pada suami, dia rela menanggung segala kesedihan dan cobaan di atas rata-rata. Butuh kesabaran dan keikhlasa yang luar biasa untuk dapat melakukan hal itu.

Coba kita lihat pada diri kita masing-masing. Dapatkah kita melakukan hal serupa? Mampukah kita mencontoh kisah wanita muslimah yang taat seperti kisah di atas? Saya rasa jawabanya adalah tidak. Jangankan meniru hal tersebut, mayoritas wanita zaman sekarang lebih suka membantah suami mereka dari pada taat pada suami. Dengan bebasnya mereka pergi keluar rumah untuk sekedar jalan-jalan, shoping, dan kegiatan tak penting lainya tanpa meminta ijin pada suami. Bukankah itu dapat menjadi sebuah cermin? Bahwa sebuah ketaatan yang ringan di katakan, tetapi berat untuk di jalankan. Tak semua orang memilikinya. Hanya para wanita-wanita muslimah yang cukup hebat yang mampu menjalaninya. Dan mereka akan mendapat balasan yang sangat setimpal kelak di sisi sang maha kuasa. Lalu, maukah kalian menjadi salah satu dari muslimah hebat tersebut? Itu tergantung dari diri kalian sendiri..

No Responses to “Kisah Muslimah yang Taat pada Suami”

Leave a Reply