Kisah Muslimah yang Membeli Surga

Surga, tiap orang mukmin pasti mengharapkan di tempatkan ke sana ketika mereka mati kelak. Karena surga adalah tempat terbaik tempat hamba-hamba yang soleh dan solehah berada. Di mana mereka dapat melihat dzat yang menciptakan mereka, di mana Alla melimpahi mereka denga ridho dan kenikmatan yang tak bisa di bayangkan di dunia. Tapi, kebanyakan manusia lupa akan hal itu. Jalan menuju surga tidaklah sulit, semua jalan yang menuju surga pasti memiliki jalur kebaikan yang pasti. Tapi kebanyakan manusia terlalu buta karena nikmat dunia. Mereka terlena, mereka lupa, bahwa dunia hanyalah tempat sementara. Hanya mereka orang-orang yang mendapat hidayah yang sadar akan berhargnya sebuah tempat di sisi Tuhanya. Bahkan mereka bersedia mengorbankan dunianya demi membeli surga mereka. Maka kali ini saya akan coba berbagi sebuah kisah muslimah yang mencoba membeli tempatnya di surga. Memang butuh perjuangan yang berat. Tapi kita harus yakin, Allah tak akan menyia-nyiakan pengorbanan dan ketulusan hamba yang murni ingin mendekatkan diri dan mengharap ridhonya semata.

Panggil saja dia umi jainab. Seorang janda tua yang tak memiliki anak. Suaminya sudah dua tahun yang lalu mendahuluinya menghadap sang pencipta. Hidupnya miskin, hanya sebuah gubuk tua di pinggir desa yang menjadi tempatnya bernaung. Suasana sepi dan terpencil, jauh dari rumah-rumah penduduk yang lain. Tiap hari umi jainab bekerja sebagai buruh cuci, dia berkeliling dari satu rumah ke rumah yang lain untuk mencari orang yang membutuhkan jasanya. Pelangganya adalah para penduduk yang merasa iba pada umi jainab. Karena wanita tua yang miskin ini hidup sebatang kara tanpa ada yang membantunya. Tapi terkadang para penduduk desa merasa heran terhadap apa yang di lakukanya. Penghasilan umi jainab sebagai buruh cuci tidaklah seberapa. Tapi tiap hari dia selalu menyisihkan sebagian penghasilanya untuk menyumbang masjid atau membantu sesama yang mebutuhkan. Padahal dia sendiri hidup serba kekurangan. Tiap hari dia merelakan diri untuk berpuasa, demi bisa menyisihkan sebagian penghasilanya untuk dia darmakan. Sungguh sikap yang terpuji tapi berat untuk dapat di laksanakan semua orang. Bahkan orang-orang yang memiliki harta berlebih saja sangat sayang mendarmakan sebagian harta mereka. Kenapa umi jainab yang sudah memiliki kehidupan sangat susah masih menyempatkan untuk membagi sebagian rizki yang di dapatnya untuk orang lain? Bukankah dia juga sama membutuhkanya?

Itu adalah sebuah pertanyaan besar yang tak bisa di jawab oleh semua orang. Hingga pada akhirnya, ada seorang tetangganya yang coba bertanya pada umi jainab tentang semua hal yang umi jainab lakukan.

“Umi.. bukankah kehidupan umi juga susah? Kenapa masih sempat menyisihkan sebagian penghasilan umi yang sudah sangat sedikit itu? Bukankah umi juga sangat membutuhkanya?”. Tanya tetangga itu.

“Aku coba membeli surga ku.. “. Jawab Umi Jainab.

Jawaban tersebut tentu saja membuat si tetangga bingung tak mengerti. Hingga akhirnya dia bertanya lagi.

“Maksud Umi apa?”. Kata si tetangga.

“Aku sudah hidup sengsara di dunia. Tak memilki anak, di tinggal sumi, aku hanya sebatang kara di dunia ini. Yang ku miliki hanya Allah saja. Aku ingin di akui oleh Allah sebagai hamba yang taat. Agar kelak aku bisa bertemu dan melihat wajah Penciptaku yang Agung secara langsung. Dan yang dapat melihat Dia dan mendapat ridho serta kasih sayangnya adalah mereka yang berada di dalam surga. Sedang mereka yang di neraka akan selamanya di laknat dan Allah tak akan mau melihat mereka. Oleh karena itu, aku coba membeli tempat ku di surga. Mencoba menjadi hamba yang baik di mata Allah. Agar aku di akui olehNya sebagai hamba-hamba solehah yang petut menempati surga untuk dapat melihat wajahnya setiap saat.. Jika aku sudah sengsara di dunia, dan masih saja menjadi hamba yang lupa pada Tuhanya dan malah terus mengejar dunia. Maka, tak ada apapun yang akan ku dapat. Selain kesengsaraan di dunia dan akhirat yang kan ku sesali selamanya..”. jawab Umi Jainab.

Mendengar jawaban itu, si tetangga menjadi terdiam. Hatinya terasa di tusuk-tusuk oleh duri yang tajam. Dia mulai sadar akan tiap kekhilafanya. Kini Allah telah mengingatkanya lewat kata-kata wanita muslimah solehah yang miskin akan dunia, tapi kaya akan iman dan cinta kepada Allah. Dan si tetangga pun menangis, menyesali tiap apa yang dia lupakan selama ini. Dia mulai sadar, dan berniat untuk menjadi hamba yang lebih baik untuk sama-sama membeli surga.

Dari kisah muslimah ini, kita dapat mengambil banyak teladan. Terkadang gemerlapnya dunia membuat kita lupa akan banyak hal. Bahwa dunia bukan tempat selamanya kita berada. Kelak, masih ada hari kebangkitan, di mana tiap orang mendapat balasan yang adil akan tiap perbuata yang mereka lakukan. Wahi para muslimah, dapatkah kalian membeli surga kalian? Dapatkah kalian mencontoh kisah wanita muslimah ini? Yang tak pernah mementingkan materi demi mendapat ridho Illahi.

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

I am a housewife. Has a husband and two sons. My job every day is as a teacher. I was born from a religious family, maintaining norms and decency. The habit of living above the norm is what makes me feel happy with my family.

2 Responses

  1. author

    Juhani3 years ago

    inspiratif dan semoga bisa memberi manfaat kepada kita semua

    Reply
  2. Kisah Wanita Pertama Masuk Surga | Muslimah Indonesia3 years ago

    […] di atas menjelaskan bagaimana semestinya istri harus berlaku pada suaminya. Perlakuan istri kepada suami adalah yang menentukan surga atau nerakanya karena ridho suami adalah ridho Allah […]

    Reply

Leave a Reply