Kisah Muslimah Teladan, Belajar dari Mantan Atheis

Ternyata kisah muslimah teladan tak hanya ada di masa lalu yang hanya bisa kita kenal lewat buku, cerita, dan kisah. Muslimah teladan yang kumaksud di sini bukan berasal dari keluarga islam yang taat. Kalian pasti akan bertanya-tanya, “Lho, kok bisa?”. Itu adalah pertanyaan picik yang lebih suka menghakimi dari pada mencoba meraba kekurangan dan kesalahan sendiri.

Aku tahu, kalian lebih sering membaca beberapa kisah muslimah teladan hanya lewat buku, tentunya mereka semua orang-orang hebat. Seperti dari kalangan kaum sufi, sahabat, nabi, atau para isteri-isteri nabi. Tapi kisah ku kali ini berbeda, ini kisah nyata yang coba ku rangkum dalam balutan cerita, berharap kita bisa mengambil hikmah dari kisah ini.

Namanya Maria, dia gadis jerman yang masih menginjak bangku SMU. Sebagimana gaya kehidupan kota-kota besar yang bebas, dia juga memiliki banyak masa lalu yang kelam. Aku sendiri belajar di sini karena mendapat beasiswa dari pertukaran pelajar. Dan nama ku adalah Lailatul Mu’anisa, atau kalian bisa memanggil ku Anisa. Dan Maria adalah muridku. Aku di sini bekerja sampingan sebagai guru privatnya.

Dia seorang mualaf yang baru beberapa bulan ini memeluk islam. Dan baru bulan lalu dia memutuskan untuk mulai mengenakan jilbab. Jilbab dengan panjang selutut dan bawahan yang polos dan longgar, hingga membuat lekuk tubuhnya benar-benar tertutup dengan rapat. Terkadang aku sendiri merasa malu dengan dia, karena aku yang biasa mengajarinya tentang islam terkadang masih mengenakan celana yang dapat menunjukan lekuk tubuh ku.

Pada suatu hari, tiba-tiba dia datang padaku. Dia berkata ingin jujur pada kedua orang tuanya bahwa dia telah memeluk islam. Aku sedikit terkejut akan hal itu, karena baru beberapa hari yang lalu dia berkata kan mencoba mengatakan rahasia itu secara pelan-pelan pada keluarganya. Dia dari keluarga Atheis, seluruh keluarganya sangat membenci islam. Terutama ayahnya. Terkadang demi menjaga rahasia itu, dia selalu mencopot jilbabnya ketika pulang ke rumah, karena ayahnya memiliki penyakit jantung sehingga dia tak mau mengejutkanya. Tapi kenapa tiba-tiba dia berubah fikiran secepat itu? Rasa penasaran akhirnya mendorong ku untuk bertanya tentang alasanya. Dan dia pun mulai bercerita.

“Keberapa hari yang lalu, ayahku berwasiat pada keluargaku. Kelak jika dia meninggal, dia ingin jasadnya dibakar dan abunya dibuang bersama angin. Karena dia beralasan tak ingin membebani kami dengan biaya sewa tanah pemakaman yang tinggi. Kau juga tahu, keluarga kami keluarga atheis. Kami tidak mempercayai adanya kehidupan setelah mati”.

“Karena hal itu aku ingin segera jujur pada mereka. Aku ingin sekali mengenalkan keluargaku kepada islam, karena aku sayang mereka dan tak ingin melihat mereka dibakar menjadi debu di dunia dan akhirat. Aku akan membawakan banyak buku-buku tentang islam kepada mereka, agar mereka dapat lebih mengenal islam dan akhurnya mau menerima islam dalam hati mereka”.

“Dan aku juga harus segera menulis wasiat, karena umur seseorang tak ada yang tahu. Aku ingin menulis wasiat agar ketika ku-mati ingin dikubur secara islam. Karena aku adalah muslimah. Jika mereka menolak permintaanku hanya karena biaya pemakaman yang mahal, maka aku akan mulai menabung mulai sekarang. Menabung untuk biaya pemakaman ku sendiri, jadi tak akan ada yang bisa menolak wasiatku karena aku menggunakan uang kusendiri”.

Jawaban yang cukup membuat hatiku terhenyak dari bibir seorang mualaf yang umurnya masih jauh di bawah-ku. Aku menjadi malu padanya. Seakan-akan bukan dia yang baru mengenal islam sebagai mualaf. Melainkan akulah yang masih terlalu bodoh tentang agama ku hingga aku harus di ingatkan allah lewat bibir seorang mualaf yang baru saja mengenal islam. Tapi lebih bisa memahami islam lebih dalam dari aku yang mengaku mengenal islam sejak aku lahir.

Semoga kita dapat mengambil hikmah dari kisah ini. Mulailah meraba diri sendiri. Jika anda mengaku beragam islam, maka sudah sejauh mana anda mengenal agama anda? Mari kita mulai bertafakur, mencoba menjadi muslimah yang taat dengan belajar dari sekian banyak kisah-kisah muslmah teladan seperti kisah saya di atas untuk kali ini.

Tags:
author

Author: 

I am a housewife. Has a husband and two sons. My job every day is as a teacher. I was born from a religious family, maintaining norms and decency. The habit of living above the norm is what makes me feel happy with my family.