Kisah Muslimah; Mengambil Teladan dari Sebuah Keikhlasan

Pagi itu aku buru-buru bangun dari tempat tidur ku. Jam menunjukan pukul 5 pagi, tapi suara di luar terdengar ramai penuh dengan jerit dan teriakan. “ Kebakaran..!! Kebakaran..!!”. suara orang-orang saling bersaut mengabarkan musibah yang datang di pagi itu. Aku ikut berlari keluar, niat ku ingin ikut menolong mereka yang tertimpa bencana. Sebagaimana suasana perkampungan, kampungku masih memiliki sikap toleransi yang sangat erat antara warga satu dengan warga yang lain. Aku mengambil ember di samping rumah dan ikut berlari bersama orang-orang yang berhambur menuju tempat kejadian.

Waktu sudah menunjukan pukul 9 pagi, suasana tempat itu sudah mulai tenang. Api yang tadi pagi mengamuk mampu di padamkan setelah melahap tiga rumah yang tepatnya berdekatan. Waktu berjalan begitu cepat, sekuat apapun kami berusaha.. api itu seakan pantang untuk mati. Tapi setelah 3 jam lamanya kami berusaha di bantu dua mobil pemadam yang datang pukul 6 tadi, api akhirnya memutuskan untuk menyerah dan mati meninggalkan puing-puing yang tengah menjadi arang. Api tersebut menghanguskan 3 rumah dan memakan 2 korban jiwa. Salah satu rumah yang terbakar habis adalah rumah hajah muslimah. Aku sangat akrab dengan dia, aku biasa main-main kerumahnya sebagaimana seperti keluarga sendiri. Dalam musibah ini, cobaan yang di tanggung hjh.muslimah sangatlah berat. Dia kehilangan rumah, satu anak, dan suaminya. Sungguh cobaan yang sulit aku bayangkan.

Terlihat dua keluarga lain yang kehilangan rumah mereka, menangis histeris meratapi rumah yang kini tengah menjadi puing. Sedangkan ku lihat hjh. Muslimah tengah duduk termenung di bawah sebuah pohon. Tampak air matanya menetes tapi bibirnya tetap mengalunkan lafadz-lafadz zdikir tanpa henti, meski pelan hampir tak bersuara. Para warga yang lain membantu membersihkan puing-puing dan mencoba mencari-cari barang yang masih bisa di gunakan untuk di selamatkan. Sedang suami dan anak hjh. Muslimah di bawa ke rumah sakit untuk di lakukan autopsi. Terlihat polisi juga masih berseliweran di sekitar untuk mencari keterangan tentang kejadian yang sebenarnya. Lalu pelan-pelan ku dekati hjh. Muslimah, ku ingin dapat menghiburnya.

“ Sedang apa umi di sini? Mari ke tempat saya saja.. umi bisa istirahat di sana”. kata ku.

“ Tidak.. trimakasih, aku ingin merenung di sini..”. jawabnya pelan.

“ Sudahlah umi, ikhlaskan semua yang terjadi. Ini semua adalah takdir yang tak bisa kita cegah.” Kata ku lagi.

“ Aku tak terlalu memikirkan apa yang baru saja ku alami. Meninggalnya suami dan anak ku, serta habisnya harta ku tak membuat ku sedih sama sekali.. itu bukan hal yang penting. Dunia memang seharusnya begitu. Hal ini ku harap dapat menjadi peringatan bagi mereka yang lupa, bahwa tak ada yang abadi di dunia ini. Harta yang kita kumpulkan, keluarga yang kita sayangi, pada akhirnya kita harus merelakan mereka semua ketika “sang pemilik” sebenarnya meminta mereka kembali”.

“ Aku menangis bukan karena menangisi dunia, aku menangis kerena rasa rinduku. Suami dan anak ku sudah di panggil ke hadiratNya lebih dulu dari pada aku. Sedangkan DIA meningalkan ku sendiri di dunia fana ini, padahal DIA juga tahu.. aku lebih merindukan untu kembali kesisiNya. Aku menangis karena seakan aku merasa belum cukup pantas untuk menghadapNya. Padahal aku sudah mencoba sebaik yang ku mampu agar menjadi hamba yang benar-benar taat, hingga DIA merindukan ku untuk segera pulang menghadapNya. Tapi mungkin rasa cinta dan rinduku belum cukup sehingga DIA memutuskan untuk meninggalkan ku dalam dunia yang ku benci ini”.

“ Buat apa ku tangisi dunia, dunia itu rumah kesengsaraan yang tak patut kita cintai. Ibarat kau habiskan semua sisa hidup mu untuk mencari dunia, tapi segala hal yang kau kumpulkan juga akan hilang dalam sekejap mata. Dunia bukan rumah kita, ini hanya tempat persinggahan dimana kita di uji. Pantas atau tidaknya kita memiliki tempat di sisiNya, semua tergantung dari kita. Jika kita terlena di dunia, maka sudah pasti.. kita termasuk orang-orang yang gagal. Tapi sayangnya, banyak manusia yang lupa akan hal itu. Terutama para wanita zaman ini, yang lebih suka menghalalkan segala cara hanya demi mendapat dunia yang nilainya tak seberapa. Sehingga wanita zaman ini hampir tak memiliki “harga” sama sekali. Bagaimana mereka minta di hargai, jika mereka tak pernah belajar menghargai diri mereka sendiri? Bahkan allah sang pencipta alam raya menghargai mereka dengan harga yang begitu tinggi, dengan meletakan syurga di bawah telapk-telapak kaki mereka. Tapi sayangnya, mereka sendiri yang megganti syurga itu dengan sandal-sandal dari api neraka”.

Aku hanya bisa termenung mendengar semua kata-kata wanita bersahaja itu. Ternyata wanita muslimah yang hebat ini tetap mampu belajr dari tiap hal, termasuk musibah yang kini menimpanya. Walau dirinya tengah di timpa musibah, dia tetap masih bisa memberi tauladan dan tausiyah. Wanita muslimah semacam ini hampir tak lagi bisa kita temui. Ibarat jarum di balik tumpukan jerami.

Tags:
author

Author: 

I am a housewife. Has a husband and two sons. My job every day is as a teacher. I was born from a religious family, maintaining norms and decency. The habit of living above the norm is what makes me feel happy with my family.