Kisah Muslimah dan Timbangan Hisab

Sebagai orang islam, kita semua wajib percaya pada adanya kehidupan setelah mati. Yaitu tentang adanya alam kubur atau alam barzakh, serta adnya akhirat dan hari pembalasan. Dari itu, jika kita percaya pada akhirat, maka kita juga wajib percaya tentang adanya surga dan neraka yang sebelum itu kita tak lepas dari yang namanya hisab. Hisab adalah suatu proses penghitungan yang menggambarkan ke Maha Adilan Allah atas segala sesuatu. Allah tak akan menganiyaya hambanya dengan mengurangi atau menambah tiap hasil timbangan amal mereka. Sekecil apapun, baik dan buruk amal yang mereka lakukan akan tetap di hitung secara adil.

Tapi kebanyakan dari kita lupa akan hal itu, atau malah lebih parah lagi yaitu sengaja untuk lupa dan menceoba untuk tidak perduli. Kita malah berlomba-lomba mengumpulkan harta dunia dan terkadang dengan bangga tanpa memiliki rasa hawatir melakukan tiap kemaksiyatan di dunia ini. Seakan kita merasa akan hidup selamanya di dunia yang penuh tipu daya ini. Nu’udzu billah min dzalik.. wahai saudara muslim ku terutama para muslimah, yang notabene para wanita sangat mudah terpengarug dengan materi. Kali ini saya ingin berbahi sebuah kisah muslimah yang semoha saja dapat mendorong kita untuk lebih bertafakur. Mendorong kita untuk lebih tahu diri, dan berhati-hati dengan tipu daya gemerlapnya dunia. Judul kisah kali ini adalah Kisah muslimah dan Timbangan Hisab. Selamat menyimak.

Sore yang sendu di sebuah padang ilalang di atas sebuah bukit. Ada seorang wanita tengah duduk termenung seakan memikirkan sesuatu. Wajahnya cantik, umurnya masih belia, dengan jilbab dan pakaian muslimah yang di kenakan membuatnya tampak semakin berwibawa. Bahkan aura kewibawaanya tak dapat di tutupi dengan wajah dan umur belianya. Dia termenung, wajahnya sedikit sendu. Seakan dia memikirkan sesuatu beban berat yang menggelanyut lekat di fikiranya.

“Abdai aku tak terlahir sebagai manusia, andai au tak di kodratkan untuk di lahirkan sebagai bani adam, niscaya kau akan sangat bahagia. Niscaya aku tak akan memiliki beban yang seberat ini..”. gumamnya.

Dalam kesendirianya, wanita itu meneruskan celoteh beratnya di saksikan rumpnut-rumput ilalang yang menari d sekelilingnya. Yang bergerak seirama seolah hanyut dalam alunan dzikir pada pencipta mereka.

“Wahai ialang.. alangkah beruntungnya kalian di ciptakan. Tiap hari kalian hanya berdzikir pada pencipta kalian dengan cara dan tata bahasa kalian yang tak dapat di fahami oleh manusia. Jika kalian mati, kalian tak harus repot memikirkan adanya hisab yang akan menghitung tiap amal perbuatan kalian”.

“Wahai ilalang.. kalian sungguh lebih beruntung.. kalian hanya di beri hidup untuk hal yang hanya allah yang tahu. Tapi semua yang di ciptakanya pasti memiliki manfa’at yang kembali pada manusai. Yang di katakan sebagai mahluk paling mulia yang pernah tercipta. Tapi kalian lebih beruntung dari manusia.. kalian hanya cukup hidup, kemudian mati, dan tiada. Tak ada surga atupun neraka yang menunggu kalian. Tak ada alam kubur yang akan membuat kalian emenunggu dengan cemas pada hari pembalasan. Dan tak ada hisab yang akan memberatkan kalian. Jujur, aku iri pada kalian”.

“Kalian lihat aku? Aku adalah manusia yang coba sebaik mungkin mendapatkan timbangan amal baik di waktu hisab ku. Sudah ku coba sebisa ku untuk melakukan segala kebaikan dan menghindari segala larangan yang di berikan tuhan ku. Tapi apakah kalian tahu apa tak enaknya menjadi manusia? Mereka di ciptakan dengan bafsu yang membawa mereka pada kata khilaf, yang mendorong mereka pada kata lupa, dan yang menggoda mereka pada kata acuh. Jika manusia itu sendiri tak bisa menjaga diri, maka manusia yang pernag di katakan sebagai mahluk paling sempurna dan paling mulia ini, akan turun derajat menjadi mahluk paling hina yang yang di laknat oleh Allah dan balasan yang tepat adalah laknat neraka. Wahai ilalang.. aku iri pada kalian.. sangat iri.. terkadang aku takut, tiap amal kebaikan yang sudah ku kumpulkan, tak ada artinya di bandingkan semua perbuatan dosa yang sudah aku lakukan. Jujur, aku sangat iri pada kalian wahai ilalang.. iri sekali..”.

Dar ikisah muslimah di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa, dia tengah mencoba bertafakur. Mencoba menimbang-nimbang antara dirinya dengan kehidupan rumput ilalang. Dia coba tahu diri, dia coba menilai derajat yang dia miliki di mata Allah dengan berusaha rendah hati. Dan dia coba sadar, banyaknya manusia yang lupa akan hari hisab dan pembalasan, membuatnya sangat was-was jika dia juga ikut seperti mereka. Hingga pada ahirnya dia berucap.. “Aku takut menjadi seorang manusia.. “.

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

I am a housewife. Has a husband and two sons. My job every day is as a teacher. I was born from a religious family, maintaining norms and decency. The habit of living above the norm is what makes me feel happy with my family.