Kisah Muslimah dan Rasa Malu

Bisa di bilang rasa malu sudah hampir “punah” di ahir zaman ini. Tak pandang pria ataupun wanita, rasa malu yang ada seakan sudah hilang entah ke mana. Rasa malu yang saya laksud di sini adalah rasa malu yang islami. Rasa malu dalam berbuat kemaksiyatan. Hal tersebut sudah dapat kita lihat dengan jelas di masa sekarang. Seakan kemajuan zaman hanya menjadi sebuah topeng dari kemunduran moral yang di bungkus cukup manis dan rapi. Semua serba terbalik di zaman ini.

Para wanita mengenakan pakaian yang serba terbuka, sedangkan para pria yang memiliki aurat tak seketat wanita malah mau meutup aurat mereka dengan rapi. Tanpa memiliki rasa malu, bahkan para wanita ini masih mempercantik diri dengan make up dan asesoris lainya demi memamerkan sisi kecantikan yang mereka miliki. Tanpa mereka sadari, bahwa suatu saat semua akan sirna. Dari tanah kembai ke tanah. Belum lagi budaya pergaulan bebas yang semakin marak, membuat para muslimah ikut terseret dan kehilangan jati diri mereka tentang apa yang di ajarkan islam. Mungkin kisah muslimah berikut ini akan dapat membangkitkan rasa malu dan kepekaan kita tentang ajaran islam yang sesungguhnya.

Pada suatu hari ada seorang wanita bernama Fatimah. Dia adalah wanita muslimah yang terkenal taat beragama, hal tersebut bukan tak mungkin karena dia di besarkan dalam ligkungan keluarga yang beragama kuat. Hari itu adalah hari minggu, fatimah di ajak oleh tunanganya untuk pergi jalan-jalan ke sebuah tempat wisata di daerah itu. Sebuah danau yang sangat sejuk dan indah. Biasanya tiap hari minggu danau tu di penuhi oleh ara pengunjung. Tapi entah mengapa, hari itu pengunjng terlihat sepi. Hanya ada beberapa pasangan muda-mudi yang juga berada di situ. Suasana yang sepi di dukung oleh pemandangan yang indag, membuat tempat itu terkesan romantis. Hingga sang lelaki tergugah hatinya yang di bisiki oleh syaatan yang taiphari tak bosan menggoda para hati yang lemah imanya.

“ Dek, bolehkah aku mencium pipimu?”. Kata lelaki tunanganya itu.

“ Maaf kak, tidak boleh..”. jawab fatimah tehas.

“Lho, memang kenapa dek? Kan kita sudah resmi tunangan? Dan waktu pernikahan kita tinggal menghitung hari”. Jawab lelaki itu sedikit protes.

“Tapi kita belum resmi menikah kak. Kta belum menjadi muhrim. Aku malu..”. jawan fatimah.

“Malu pada siapa? Toh di sini tak ada orang selain kita. Suasananya juga sepi”. Jawab pria itu lagi.

“Aku malu pada pogon-pohon, aku malu pada binatang-binatang di sini, aku malu pada rumput, aku malu pada tanah yang ku pijak, aku malu pada awan, aku malu pada langit, dan terlebih lagi aku malu pada Allah jika aku melakukan maksiyat padahal dia maha tahu. Mana wujud trimakasih ku padaNya yang telah memberikan aku nikmat dan rizki. Haruskah aku kau anjurkan untuk membalas semua anuhrah yang di berikan Allah kepada ku dengan bermaksiyat kepadanya? Jika kamu memang mencintai aku, apakah kamu rela menjerumuskan ku dakam jurang api neraka?’. Jawab fatimah.

Mendengar jawaban calon isterinya itu, lelaki itu lalu tersadar akan ke khilafanya. Kemudian meminta maaf dan berjanji tak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Dari kisah di atas dapat kita ambi teladan. Orang yang memiliki rasa malu akan selalu sadar, bahwa dia tak pernah sendirian. Dalam situasi sesunyi apapun, tetap ada Dzat yang Maha Tahu dan mengawasi tiap perbuatan mahluknya.

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

I am a housewife. Has a husband and two sons. My job every day is as a teacher. I was born from a religious family, maintaining norms and decency. The habit of living above the norm is what makes me feel happy with my family.