Kisah Dua Anak dan Pesan Ayah

Seorang ayah menderita penyakit lama dan tak kunjung sembuh. Karena dia merasa umurnya tidak lama lagi, sang ayah lalu memanggil dua orang anak laki-lakinya untuk memberikan nasehat, berupa pesan dan wasiat kepada mereka.

“Duhai anak-anaku yang gagah perkasa. Saya hanya bisa menitip pesan buat kalian agar bisa sukses kelak. Pertama; jangan pernah berhutang. Kedua, jangan pernah terkena sinar matahari.”

Pesan ini tersimpan dengan baik di memori dua anak laki-lakinya tadi. Selain itu, ayah berpesan kepada isterinya, agar mengawasi kedua anaknya dengan baik. “tak perlu mengajarinya, pesan saya tadi sudah cukup bagi mereka.” Demikian pesannya buat isteri, sampai kemudian sang ayah menghembuskan nafasnya yang terakhir. (baca: kisah inspiratif muslimah)

10 tahun berjalan, ibu mendatangi anak pertama. Kelihatannya anak pertama ini dirundung duka, usahanya hampir bangkrut, dan harta dari ayahnya berupa perusahaan dan asetnya hampir habis. Ibu lalu bertanya, “Ada apa denganmu nak? Kenapa keadaan kamu seperti ini?”

Anak lalu menjawab, “Saya senantiasa patuh dengan pesan ayah. Saya tidak pernah meminjam dan berutang kepada orang lain, akhirnya usaha saya tidak bisa berjalan dengan baik karena saya butuh modal, tapi sayang pesan ayah melarang berutan ke orang lain. Ibu, saya juga tidak pernah terkena sinar matahari. Saat ke kantor, saya naik taksi, kalau lebih jauh saya menyewa kendaraan. Kalau menyeberangi lautan kadang saya menyewa helikopter. Inilah juga yang menghabiskan harta saya.”

Ibu lalu mendatangi anak kedua. Kelihatannya anaknya yang kedua ini, jauh berbeda dengan anak pertama. Kehidupannya sukses, usahanya berjalan lancar, bahkan anak-anaknya sudah memiliki masing-masing satu perusahaan sendiri. Ibu lalu bertanya, kenapa kamu berbeda dengan kakakmu?

“Saya menuruti pesan ayah bu, agar tidak berhutang dan tidak terkena sinar matahari. Saya tidak ingin terkena sinar matahari, makanya sebelum matahari terbit, usai shalat subuh saya sudah berangkat ke kantor. Saya pulang setelah shalat maghrib di kantor. Isteri dan anak terkadang saya ajak kerja bersama. Ibu, saya juga tidak mau berhutang meminjam uang pada orang lain, karena pinjaman pasti menyusahkan. Saya berusaha dari nol, meski dengan modal sedikit, berusaha bangkit, menabung dan menabung.”

kisah dua anak dan pesan ayah

Sahabat muslimah. Banyak pelajaran terkandung dari hikmah dan pelajaran kisah dua anak dan pesan ayah tadi. Pelajaran terpenting, terkadang dua orang atau lebih mendengar kalimat yang sama, tapi memahaminya berbeda. Dua anak laki-laki tadi sama-sama mendengar nasehat sang ayah tapi keduanya memiliki pemahaman berbeda satu sama lain. (baca juga: kisah kisah para muallaf)

Kita juga terkadang demikian. Sama-sama mendengar kalimat tausiah, materi yang sama, guru yang sama, tapi berbeda cara memahaminya. Olehnya itu, semua pesan, semua materi yang kita baca, yang kita ketahui, jangan segan-segan untuk menanyakan ulang maksudnya.

Misalnya saja, kita membaca tulisan sederhana dari web muslimah ini. Ada banyak pembaca, tapi tak ada jaminan pemahaman dari hasil bacaan sama semua dari keseluruhan pembaca. Olehnya itu dibutuhkan crosschek, tanya ulang, berkomentar, menghubungi kontak, dan cara lainnya.

Semoga kisah dua anak dan pesan ayah ini menggugah kesadaran kita semua. Amin ya rabb…

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

I am a housewife. Has a husband and two sons. My job every day is as a teacher. I was born from a religious family, maintaining norms and decency. The habit of living above the norm is what makes me feel happy with my family.