Jilbab bagi PNS di Turki dan Polwan di Indonesia

Kali ini penulis akan mengajak anda untuk mengulas beberapa isu hot tentang jilbab yang kini telah muncul di akhir 2013 baik di Indonesia sendiri dan di Turki. Seperti yang kita ketahui bahwa di Turki telah ada pencabutan larangan memakai Jilbab yang sebelumnya diterapkan untuk PNS, namun dengan adanya 11 juta tanda tangan yang diberikan tentang persetujuan menggunakan jilbab saat menjabat menjadi PNS telah dilakukan oleh The Civil Servant’s Trade Union ata Memur-Sen untuk mewujudkan para pemilik suara untuk hak mereka tersebut.

Bagi penulis pribadi, hal ini memang merupakan sebuah kabar yang cukup melegakan, setidaknya bisa menjadi udara segar bagi semua muslimah yang ada di Turki yang tidak bisa merasakan kenyamanannya untuk meninggalkan jilbab demi menjadi PNS yang merupakan tuntutan karir mereka. Apalagi peraturan tersebut yang telah menjadi perdebatan sejak jaman bahula itu akhirnya akan segera membuahkan hasil.

Berbeda dengan isu yang muncul di Indonesia mengenai usulan untuk polwan berjilbab. Isu yang satu ini cukup panas. Pasalnya, di tahun 2013 ini penulis mengamati bahwa tidak sedikit kasus yang melibatkan kekerasan seksual secara mental atau psikis para polwan yang berujung pada pemecatan secara tidak terhormat pada para polisi ‘genit’ itu. Laporan demi laporan yang muncul dengan kasus sama telah menandakan bahwa polisi wanita yang entah kenapa selalu cantik-cantik dan menarik itu selalu muncul yang menjadi alasan utama munculnya ide ini.

Lalu apa salahnya dengan ide ini? Sebenarnya demi keselamatan dan juga demi kenyamanan para polwan, tidak ada salahnya mereka diberikan kebebasan untuk menggunakan jilbab atau kerudung mereka. Konyolnya, penulis pernah menemukan sebuah pernyataan di media bahwa ternyata menggunakan jilbab masih menjadi kontroversi yang mengatakan jilbab akan menyulitkan para polwan saat mereka berkendara atau beroperasi di lapangan.

Jelas-jelas alasan yang satu itu terdengar konyol di mata penulis, tau enggak kenapa? Masalahnya, itu cuman alasan yang terdengar dibuat oleh anak SD, yang terkesan mempersulit sebuah solusi yang sebenarnya cukup simple. Kita juga memiliki banyak desainer jilbab yang namanya sudah dikenal harum di Indonesia atau bahkan di negara lain, sehingga apa sulitnya membuat jilbab yang bisa memberikan kenyamanan untuk melindungi diri para polwan tersebut, nyaman saat berkendara atau juga beroperasi di lapangan.

Dari dua isu tadi, tentunya banyak hal yang perlu dikaji ulang tentang esensi jilbab untuk para polwan yang memang butuh untuk dilindungi. Terlebih kasus-kasus yang melibatkan skandal atau trauma yang muncul setelah para polwan cantik ‘dikerjai’ habis-habisan oleh para atasannya. Tentu menjadi penting kenapa kita tidak belajar dari Turki yang bisa memenuhi kebutuhan para PNS-nya? Terlebih untuk kebebasan budaya agama dan juga kenyamanan individual.

Tags:
author

Author: 

I am a housewife. Has a husband and two sons. My job every day is as a teacher. I was born from a religious family, maintaining norms and decency. The habit of living above the norm is what makes me feel happy with my family.