Imaan; Mendapat Hidayah Karena Mendengar Suara Azan

Berasal dari keluarga beda agama, tidak meniscayakan yang bersangkutan mengikuti agama yang dianut keluarganya sejak lama. Ada saja hal menjadi perantara hidayah Tuhan kepada manusia. Dengan hidayah tersebut, kebenaran akan dirasakan sehingga dengan penuh percaya diri, mengucapkan dua kaliamt syahadat dan menggenggam kalimat tauhid.

Inilah yang terjadi pada kehidupan Imaan, seorang warga Filipina yang akhirnya mengucapkan dua kalimat syahadat, meski sebelumnya hidup dalam keluarga Kristen yang kental. Bahkan sejak kecil, Imaan selalu menghadiri misa di gereja setiap hari Minggu, dan orang tuanya memasukkan dia ke sekolah dan universitas Katolik.

Mulai dari situlah, muncul pikiran Imaan yang tidak pernah terjawab. Pikiran yang menjadi pertanyaan dan tidak pernah terjawab baik oleh orang tua saya maupun oleh profesor-profesor di universitas tempatnya. (baca: kisah wanita yang suka dugem mendapat hidayah)

Hingga suatu hari Imaan melihat seorang Muslimah memaki cadar sedang membeli buku di sebuah toko. Keduanya saling memandang, dan pada saat itulah dia merasa wanita bercadar itulah wanita paling cantik yang ada dinuia ini. Perasaan itu kemudian menjadi bahan pertanyaa ke semua bibi saya, sepupu dan beberapa teman saya mengenai mengapa ada orang yang memakai cadar, mengapa mereka menyembunyikan wajah mereka, mengapa dan mengapa dan mengapa, tapi tidak ada yang bisa menjawabnya.

Ada jawaban, tapi jawaban itu justru menimbulkan pertanyaan baru. Banyak yang mengatakan “mereka adalah teroris”. Benarkah demikian?

Saat berusia 18 tahun, Imaan mulai mempelajari agama-agama lain. Dia tidak pernah menyerah mencari jawaban. Sampai pada usia 19 tahun, keluarganya pindah ke sebuah daerah yang 60 % orang-orang di sana adalah Muslim.

Kisah Muslimah MuallafSuatu hari sekitar jam enam sore, keluarga Imaan pergi ke gereja untuk mengikuti misa. Dia masih ingat, saat itu tanggal 2 November, Imaan sedang berdiri di salah satu sudut gereja, kemudian tiba-tiba dia mendengar suara azan untuk pertama kalinya dalam hidup. Di situlah dia merasa suara azan seakan memanggilnya, bahkan tubuhnya ingin berjalan menuju ke sumber suara azan itu.

Saat kembali ke kota kelahiran, Imaan lalu mulai mempelajari Islam lebih dalam dan dari sana dia memutuskan untuk mengucap syahadat sendirian di kamar. Alhamdulillah Allah memudahkan perjalanan Imaan dengan internet tempat nya bisa belajar dari situs-situs Islam mengenai bagimana tata cara shalat. (baca: jika suami tidak mengerjakan shalat)

Lambat laun kebiasaan buruk yang kerap dilakukan, seperti nongkrong larut malam dengan teman-teman, minum alkohol dan merokok, akhirnya dihentikan. Sehingga teman-temannya menuduhnya sudah gila. Setiap menunaikan ibadah shalat, mereka terus menertawakan.

Sampai sekarang, Imaan masih istiqamah dengan rutinitas keislamannya. Imaan yang nama lahirnya adalah Jane, kini sudah berusia 21 tahun. Semoga gadis ini tabah menghadapi getirnya iman. Amiin ya Rabbal Alamiin.

Tags:
author

Author: 

I am a housewife. Has a husband and two sons. My job every day is as a teacher. I was born from a religious family, maintaining norms and decency. The habit of living above the norm is what makes me feel happy with my family.