Hukum Seputar Wanita di Bulan Ramadhan

Bulan penuh berkah tinggal menghitung hari. Bagi musliamh sejati, pasti mengharapkan akan semakin terbimbing melalui amalan yang dilakukan di sisi Allah swt. Olehnya itu, diperlukan bekal sebagai tuntunan menghadapi bulan Ramadhan tersebut sehingga, puasa akan menjadi bernilai ibadah dan bukan hanya sekedar menahan lapar dan haus saja.

Bagi seorang wanita yang akan berpuasa, ada beberapa hukum seputar wanita di bulan Ramadhan yang perlu diketahui. Hukum seputar wanita di bulan Ramadhan tidaklah terlalu sulit, namun terkadang kita menyepelekan dan melupakan hal itu. Adapun hukum terkait wanita di bulan Ramadhan yang familiar akan kita bahas, sebagai berikut;

Seorang beriman wajib mengerjakan puasa di bulan Ramadhan baik wanita maupun pria, namun bagi wanita, ada beberapa alasan-alasan khusus yang membolehkannya untuk tidak berpuasa wajib, antara lain:

1. Haid (baca: hukum seputar haidh)

Seorang wanita yang haid dan nifas dilarang untuk melakukan puasa berdasarkan hadits Abu Sa’id al Khudriy ra, bahwasanya Nabi saw: “Bukankah wanita itu jika sedang haid dia tidak sholat dan tidak berpuasa? Itulah kekurangan agamanya.” (HR Bukhori)

Ada rasa tidak adil bagi muslimah yang ingin menyempurnakan puasanay sebulan penuh. Kenapa, berbeda dengan pria. Perlu diketahui, bahwa di balik segala sesuatu pasti ada hikmahnya, meskipun kita tidak mampu membuka tabir hikmah tersebut. Ibnu Taimiyah berkata “Haid menyebabkan keluarnya darah. Wanita yang sudah mendapat haid dapat berpuasa di selain saat-saat merahnya yaitu dalam kondisi tidak keluar darah (tidak haid). Karena puasa pada waktu itu adalah puasa dalam kondisi fisik yang seimbang dimana darah, yang merupakan inti kekuatan tubuh, tidak keluar. Puasanya di saat haid akan menguras darah sehingga berdampak pada menurun dan melemahnya tubuhnya dan puasanya pun tidak pada kondisi fisik yang seimbang. Oleh karena itu, wanita diperintahkan untuk berpuasa di luar waktu-waktu haidnya.”

Olehnya itu, wanita haid tersebut wajib meng-qadha atau mengganti puasa yang ditinggalkannya pada hari yang lain di luar bulan Ramadhan, berdasarkan hadis“Kami mengalami haid di masa Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam, maka kami diperintahkan untuk meng-qadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk meng-qadha’ sholat.” (Shohih, dalam Shohih Jami’ no. 3514).

ilmusunnah.com

ilmusunnah.com

2. Wanita Hamil dan Menyusui

Bagi wanita yang hamil, jika khawatir akan membahayakan dirinya atau bayinya, maka diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Begitu juga dengan wanita yang sedang menyusui, apalagi jika tidak dapat mencari pengganti wanita lain yang dapat menyusui bayinya. Maka, wanita yang mengalami dua keadaan tersebut, menurut pendapat yang lebih kuat, adalah wajib baginya untuk membayar fidyah yaitu memberi makan orang miskin sebanyak hari yang dia tinggalkan, tanpa perlu meng-qadha’ puasanya, sebagaimana fidyah bagi orang yang telah renta (Al Wajiz, hal. 199)

Fidyah yang harus diberikan berupa makanan pokok negeri tersebut, misalnya beras atau roti, sebanyak 0,5 sha’ (500 gram) makanan untuk selain burr jayyid (tepung yang sangat halus). Adapun burr jayyid, ditentukan sebesar 0,25 sha’ (510 gram). Bisa juga diberikan bersama lauk pauknya. Fidyah tersebut bisa diberikan dengan cara mengumpulkan fakir miskin sebanyak hari yang ditinggalkan atau memberikannya secara terpisah (sendiri-sendiri), yaitu setiap satu orang miskin hanya berhak mendapat jatah satu kali fidyah. (Fushul fi Ash Shiyam, hal. 9). Yang perlu diperhatikan dalam hal ini, fidyah tidak bisa digantikan dengan dengan uang senilai 0,5 sha’ makanan pokok, sebagaimana yang lazim dipahami oleh sebagian orang, karena lafadz dalil adalah “memberi makanan”, bukan “memberi uang”.

Yang perlu menjadi perhatian dari seluruh penjelasan di atas bahwa jika seseorang yang masih memiliki hutang puasa namun ia belum meng-qadha’ puasa pada Ramadhan yang lalu hingga datang bulan Ramadhan berikutnya, maka ia harus meng-qadha’ puasanya tersebut dan membayar fidyah sebanyak hari yang ia tinggalkan. Hal ini sebagaimana difatwakan oleh beberapa shahabat seperti Abu Hurairah dan ‘Abdurrahman bin ‘Auf.

Selain itu, seorang wanita tidak diperbolehkan untuk berpuasa sunnah kecuali dengan seijin suaminya. Hadits dari Abu Hurairah ra berkata: bahwasanya Nabi sawbersabda: “Tidak halal seorang wanita berpuasa sedang suaminya berada di rumahnya kecuali dengan seizinnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Tags:
author

Author: 

I am a housewife. Has a husband and two sons. My job every day is as a teacher. I was born from a religious family, maintaining norms and decency. The habit of living above the norm is what makes me feel happy with my family.