Hukum Muslimah Menghadiri dan Shalat Idul Adha

Waktu berjalan, tak terasa Hari Raya Idul Adha sebentar lagi. Artinya sebentar lagi, kaum muslimin merayakan kegembiraan bersama sanak keluarga. Yang bekerja di kota berbondong-bondong mudik. Pulan untuk saling bersukacita, bersilaturahim, dan maaf-memaafkan.

Kaum muslimin dan muslimah wajib meneladani apa yang menjadi sunnah Rasul saw, yaitu perbuatan, perkataan, dan takrir Nabi saw. Takrir adalah sesuatu yang dilakukan sahabat, dan nabi tidak melarangnya.

Pada zaman nabi saw, jika tiba masa Hari Raya Idul Adha, para sahabat berbondong-bondong menuju masjid untuk menghidupkan syiar Shalat Idul Adha, baik orang tua maupun anak-anak (baca: rajin shalat).

Tentu muncul pertanyaan, bagaimana hukum Muslimah menghadiri dan shalat Idul Adha? Seperti diketahui, bahwa saat shalat yang dilaksanakan dua Id, baik Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha, di tempat berhari raya berkumpul banyak orang. Bukankah muslimah tidak boleh sembarangan keluar rumah, memperlihatkan dirinya kepada banyak orang yang bukan muhrimnya?

Dalam kitab al-Mufashhal fi Ahkam al-Mar’ati (bagian-bagian hukum perempuan), dijelaskan bahwa para Muslimah, baik yang sudah berkeluarga, lajang, gadis, muslimah paruh baya, dan tua, dianjurkan untuk hadir tempat Hari Raya Idul Adha, baik itu dilaksanakan di masjid atau di lapangan.

Ulama sepakat, bahwa hukum Muslimah menghadiri dan shalat idul Adha adalah sunnah. Hal ini dinukilkan dari hadis Nabi saw, yang diriwayatkan Ummu Athiyyah, bahwasanya Rasul saw menyerukan umatnya agar keluar rumah dan menuju masjid untuk meramaikan Idul Fitri dan Idul Adha. Baik anak kecil, gadis, atau yang sedang mengalami menstruasi sekalipun.

Muslimah hadir di masjid idul adha

Bagi muslimah yang sedang hadih, tentu dilarang melakukan shalat. Apabila shalat Idul Adha dilaksanakan di masjid, maka boleh saja muslimah masuk ke masjid selama itu memungkinkan, tidak mengganggu, tidak berdesak-desakan. Karena hukumnya, mubah (boleh). Dalam hal ini, lebih baik berada di pelataran masjid. (baca: hukum muslimah haidh masuk masjid).

Namun, jika Hari Raya Idul Adha dan shalat idul Adha dilakukan di lapangan, maka muslimah disunnahkan hadir di lapangan, meski hanya ikut takbir, berdoa dan tidak ikut dalam shalat. Tujuannya agar bisa mendengar khutbah, menyaksikan kebaikan dari suara takbir, dan kebaikan lainnya.

Kehadiran muslimah di tempat shalat Idul Adha, harus tampil dengan menutup aurat, seperti mengenakan jilbab, menjaga etika dengan tidak memakai parfum yang berlebihan, mengenakan baju yang mencolok, atau bersolek glamour dan tak wajar. Bagi muslimah yang sudah renta, dan uzur, memiliki halangan, oleh imam hanafi dan Hanbali, dianjurkan agar tetap di rumah.

Tags:
author

Author: 

I am a housewife. Has a husband and two sons. My job every day is as a teacher. I was born from a religious family, maintaining norms and decency. The habit of living above the norm is what makes me feel happy with my family.