Hukum Menggugat Cerai Suami Karena Mandul

Tidak ada manusia hidup yang tak memiliki masalah. Semua pekerjaan, didalamnya ada masalah, termasuk dalam pernikahan. Itulah sebabnya kata nikah terdiri dari satu huruf “K” yang diinisialkan sebagai “karaha” dan berarti tidak sesuai.

Dalam hidup dan kehidupan suami istri, selalu saja ada ketidaksesuian, dan di sinilah dituntut rasa lapang dada dalam menerima ketidasesuaian itu. Pasangan hadir sebagai sesuatu yang saling menutupi.

Seperti halnya, salah satu tujuan utama disyariatkannya nikah adalah mendapatkan anak. “Menikahlah dengan wanita romantis dan subur, karena aku membanggakan banyaknya pengikutku di hadapan banyak umat.” Sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan Abu Daud dan Nasai.

(baca: sifat wanita yang sering diceraikan)

Dari sini kemudian muncul larangan bagi suami untuk melakukan ‘azl (membuang air maninya) ketika berhubungan dengan istri yang merdeka, kecuali dengan izin istrinya.

Lalu bagaimana dengan suami yang mandul? Karena suami mandul terhitung sebagai aib dan kekuarangan yang menghilangkan salah satu tujuan nikah. Maka akan hal itu menyebabkan bolehnya memutuskan ikatan pernikahan, tanpa dibatasi dengan bilangan tertentu.

Namun, semua sifat yang menyebabkan salah satu pasangan menghindar dari pasangannya atau menghalangi salah satu pasangan untuk bisa menikmati hubungan badan, atau menghilangkan salah satu tujuan nikah, terhitung sebagai aib yang membolehkan masing-masing untuk menentukan pilihan, antara cerai dan melanjutkan rumah tangga.

Dalam suatu riwayat, suatu hari, Umar bin Khatab ra, mengutus seseorang sebagai petugas zakat di daerah tertentu. Ternyata dia menikah dengan wanita di daerah itu, padahal dia mandul. Umar-pun bertanya kepadanya, “Apakah kamu sudah memberi tahu istrimu bahwa kamu mandul, tidak bisa punya anak?” “Belum” Jawab orang ini. Umar menasehatkan, “Sampaikan kepadanya bahwa kamu mandul, kemudian berikan hak pilih untuknya.”

Dari rwayat ini kemudian, ulama sepakat bahwa salah satu pasangan baik suami maupun istri berhak menggugat atau berhak minta fasakh (gugat cerai ke pengadilan) karena mandul.

Ilustrasi

Ilustrasi

(baca: baik buruk wanita bekerja)

Terkait hal itu, pasangan suami istri sebelumnya mamang tidak mengetahui hal itu akad nikah. Jika dia telah mengetahui hal itu, gugur haknya untuk mengajukan fasakh, karena ketika dia menjalani pernikahan, dia sudah memahami keadaan pasangannya, dan dia telah menggugurkan haknya sejak awal.

Seorang wanita yang sudah tahu sebelumnya, bahwa pasangannnya atau suaminya mandul, maka wanita itu harus rela mendampingi suami yang mandul dan bersabar, dia akan kelihatan awet mudah, sehingga membuat suami makin cinta dan semangat untuk memiliki anak. Dan demikian pula sebaliknya.

Tags:
author

Author: 

I am a housewife. Has a husband and two sons. My job every day is as a teacher. I was born from a religious family, maintaining norms and decency. The habit of living above the norm is what makes me feel happy with my family.