Hukum Melahirkan dengan Bantauan Dokter Laki laki

Seperti sudah diketahui bersama, bahwa aurat wanita adalah muka dan telapak tangan. Artinya muka dan telapak tangan boleh terlihat di hadapan semua orang, beda dengan bagian tubuh yang lain, kecuali di hadapan mahramnya.

(baca: aurat wanita di hadapan mahramnya)

Perlu pula diketahui, bahwa semua hukum Allah swt mengenai pelarangan dengan hukum haram, terkadang atau boleh menjadi halal dengan hal dan sebab tertentu. Sebab dan hal tertentu itu sifatnya darurat, tak ada jalan lain, dan dihum sebagai ma’fuwwun ‘anhu (dimaafkan atas pelanggaran itu)

Akan halnya dengan aurat wanita, ada suatu waktu tidak ada jalan lain atau sifatnya darurat sehingga hal yang sejatinya tidak boleh dilihat oleh selain mahram, akhirnya dibolehkan. Misalnya saja, bagaimana jika seorang muslimah melahirkan dengan bantuan dokter laki-laki? Bagaimana hukumnya, dan apa sebab yang membolehkannya?

Fakta menyebutkan bahwa dokter spesialis obstetri ginekologi ternyata didominasi oleh dokter laki-laki. Di lain sisi kita harus berusaha menjaga perintah Allah dalam surah an-nur ayat 31, “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya.” Artinya, hukum asal memperlihatkan aurat di hadapan perempuan ataupun laki-laki adalah haram.

(baca: hukum wanita terkait mahram)

Dalam hal inilah ada kondisi darurat dan berlaku hukum “ad-Dharuratu Tubihul Mahdzurat” (kondisi darurat bisa membolehkan perkara yang dilarang). Dengan aturan inilah kebolehan memperlihatkan aurat itu berlaku. Hanya saja, batasan darurat ini yang harus diperjelas. Sebelum kondisi kita dalam keadaan darurat, semestinya muslimah yang akan melahirkan mempersiapkan beberapa hal;

Pertama, jauh hari seorang muslimah yang akan melahirkan bersama pasangannya, merencanakan proses persalinannya dengan menggunakan jasa dokter muslimah pula. Usaha ini harus maksimal. Bahkan dalam hal melahirkan, seorang suami dituntut untuk tahu melaksanakan itu atau minimal mendampingi isterinya.

Kedua, jika opsi pertama gagal meski usaha agar proses persalinan dilakukan dengan jasa dokter muslimah, maka boleh menggunakan jasa dokter laki-laki dengan syarat, dokter itu seorang laki-laki muslim.

Ketiga, jika opsi pertama dan kedua tidak bisa terpenuhi, maka alternatif terakhir diperbolehkan datang kepada dokter laki-laki non-muslim. Urutan ini harus konstruk dari awal.

melahirkan dengan dokter laki lakiSahabat muslimah, upaya maksimal akan proses persalinan dengan tetap memperhatikan koridor syar’iy sangatlah penting. Ini mengenai harkat dan martabat wanita yang memperlihatkan aurat beratnya. Jangan asal membawa isteri ke rumah sakit tanpa perencanaan, maka kondisi darurat tidak memenuhi syarat.

Apalagi, banyak wanita sekarang memilih dokter langganan (untuk penyakit lain) dan dipakai saat proses melahirkan, padahal di tempatnya terdapat dokter perempuan. Hal itu juga tidak memenuhi syarat darurat.

Poin penting, bahwa dalam proses persalinan sedapat mungkin didampingi oleh pasangan atau suami.

Tags:
author

Author: 

Seorang muslimah yang bercita-cita menjadi shalehah. Berusaha dan terus berusaha