Hati Kecil si Kecil Aisyah

Dikisahkan Nabi Muhammad saw pernah bertemu dengan seorang hamba Allah yang rela menggendong Ibunya sambil berjalan kaki dari Madinah ke Mekkah demi menjalankan ibadah haji dan menjawab pertanyaan darinya mengenai apakah ia telah berbakti pada orang tuanya itu. Rasulullah menjawab bahwa perjuangan yang sedemikian rupa itu pun tak sebanding dengan apa yang dilakukan sang Ibu untuknya.

Jika direnungkan, ada banyak sekali tugas dan kewajiban seorang anak terhadap orang tuanya. Namun, meski sudah berbakti seperti apapun, sesungguhnya apa yang dilakukan seorang anak pada orang tuanya tak lebih besar daripada kasih sayang dan pengorbanan orang tua untuk sang anak.

Ambil atau Kembalikan?

Aisyah. Begitulah orang biasa memanggil gadis cilik berkerudung kumal itu. Sang Ibu memberikan nama itu, nama yang sama dengan salah satu Ummul Mukminin, dengan harapan anaknya bisa menjadi anak yang sholehah seperti istri baginda Rasulullah itu.

Sayang, nasib baik tak datang pada keluarga itu. Setelah ayahnya meninggal, sang ibunda harus rela banting tulang seorang diri demi menyambung hidupnya dan dua anaknya, Aisyah dan Syaiful. Untung saja Allah masih berbaik hati membiarkan keduanya tetap bersekolah berkat bantuan dari pemerintah.

Sejak memasuki bangku sekolah, Aisyah dan Syaiful memutuskan untuk membantu ibunya yang mulai lemah untuk mencari nafkah. Syaiful menjadi loper koran di pagi hari dan membantu mengurus ternak tetangga di sore hari. Aisyah berkeliling menjajakan jasa semir sepatu. Kini Aisyah duduk di kelas 5 SD sedang Syaiful memasuki tahun pertama di SMP.

Suatu hari, ketika Aisyah sedang berkeliling di sekitar rumah sakit, ia menemukan sebuah dompet berisi banyak uang seratus ribuan, cukup banyak untuk membawa ibunya berobat ke rumah sakit. Namun, hati kecilnya selalu mengingat Allah, dan Allah selalu melihat apa yang dilakukannya. Aisyah pun membawa dompet itu ke pos satpam terdekat. Kebetulan ada seorang pria yang gelisah karena kehilangan dompetnya.

Aisyah pun bertanya pada orang itu mengenai ciri-ciri dompet miliknya, kemudian menyerahkan dompet yang ditemukannya setelah mendapat jawaban yang tepat.

“Iya benar sekali dik,” jawab si bapak. aisyah kemudian meminta orang itu untuk mengecek dahulu isi dompetnya. Semua lengkap. Uang banyak yang dibawanya itu untuk mengurus persalinan istrinya.

“Ini dik, ada sedikit rasa terima kasih karena sudah mengembalikan dompet bapak. Adik bisa belikan buku atau mainan yang adik suka,” kata pria itu seraya menyerahkan lima lembar uang seratus ribuan.

“Terlalu banyak pak. Saya tidak bisa menerima semua ini pak,” tolak Aisyah. Sang bapak tetap bersikeras, berkata Aisyah bisa menabungnya atau memakainya untuk apapun juga. Aisyah teringat ibunya di rumah. Setelah mengucapkan terima kasih, Aisyah pun bergegas pulang untuk menceritakan pengalaman berharga ini pada sang ibu dan kakaknya.

Ilustrasi: alhusnakuwait.blogspot.com

Ilustrasi: alhusnakuwait.blogspot.com

Salah satu tugas seorang anak yang sholehah adalah untuk membahagiakan orang tuanya. Namun kebahagiaan itu bukan didapat dengan membawakannya uang yang berlimpah. Kebahagiaan orang tua bisa diciptakan dengan menjadi pribadi yang baik, sholeh sholehah, dan dapat menjadi kebanggaan orang tua.

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

I am a housewife. Has a husband and two sons. My job every day is as a teacher. I was born from a religious family, maintaining norms and decency. The habit of living above the norm is what makes me feel happy with my family.