Fatimah si Anak Sholehah

Di suatu negri yang jauh, tinggal seorang perempuan tua dengan satu anaknya yang bernama Fatimah. Kakak-kakak Fatimah telah lama meninggalkan desa tempat kelahirannya itu untuk pergi merantau dan mengadu nasib ke kota yang lebih besar. Namun, sejak berpamitan pun mereka tak pernah juga datang lagi ke desa itu meski untuk sekedar menengok ibunya. Tinggallah Fatimah seorang diri menjaga sang ibu yang kini telah menjadi tua dan sakit-sakitan.

Sembari merawatnya, Fatimah bekerja keras mengumpulkan kayu bakar dan menjajakan makanan di pasar. Meski demikian sibuknya, Fatimah tak pernah melupakan waktu sholat lima waktunya dan selalu menjalankan ibadah lainnya seperti puasa dan sholat sunnah, berdzikir, dan bertahajud. Pada suatu hari…

Kisah tentang Keikhlasan

Seperti biasa, dini hari setelah sholah subuh Fatimah bersiap berangkat pasar dengan menggotong bakul penuh berisi makanan dan jajanan pasar di atas kepalanya yang berbalut kerudung besar panjang. Sesampainya di pasar, telah banyak pedagang segala rupa yang bersemangat menjajakan barang jualan masing-masing. Fatimah tak terbiasa berteriak-teriak memanggil pembeli seperti itu. Ia hanya duduk di suatu sudut dan ber-dzikir sembari menunggui orang yang berkenan membeli makanan buatannya. Bukannya ogah-ogahan berdagang atau apa. Fatimah selalu berpikir bahwa rejekinya tak akan diambil oleh orang lain. Yang ia ingin lakukan adalah berusaha berdagang, bukan memaksa apalagi mengancam.

Benar saja, dagangan Fatimah memang selalu laku terjual. Bukan hanya oleh pembeli yang singgah ke pasar itu namun juga oleh sesama pedagang yang segera menjadi penggemar masakan Fatimah yang enak.

Hari itu Fatimah memutuskan untuk pulang lebih awal dan bersiap pergi ke hutan di belakang rumahnya. Makanan yang dibawanya pun hanya tinggal dua bungkus, satu untuk ibunya di rumah dan satu untuk dibawa sebagai bekal ia makan setelah lelah mencari kayu bakar. Di dalam hutan yang lebat itu, terkejutlah Fatimah mendapati seorang pria tua tergeletak lemas di salah satu pohon besar. Melihat Fatimah, pria tua itu pun meminta sedikit makanan dan minuman darinya.

Tanpa pikir panjang, Fatimah memberikan bekalnya sendiri untuk pria tua tersebut. Setelah makan dan minum sembari mengobrol dengan Fatimah, si kakek segera berpamitan. Tinggal Fatimah sendiri melanjutkan mencari kayu bakar di hutan meski tanpa perbekalan.

Ilustrasi: blog.republika.co.id

Ilustrasi: blog.republika.co.id

Tak lama hari berselang, datang seorang pemuda gagah nan tampan ke rumah Fatimah. Untuk melamar gadis yang telah menolong ayahandanya, katanya. Ternyata pria tua yang ditemuinya adalah saudagar kaya yang tersesat setelah barang bawaannya ludes dirampok dalam perjalanan pulang. Fatimah dan ibunya pun di boyong ke rumah besar milik saudagar itu sebagai istri dan mertua si pemuda.

Miskin harta lebih baik dari miskin hati. Mungkin pepatah ini sangat cocok untuk menggambarkan kehidupan Fatimah yang serba kekurangan. Terkadang kita seakan lupa, rejeki dan cobaan semua datang dari Allah. Senantiasa menyambut rezeki-Nya dan bertahan menghadapi cobaan-Nya merupakan tugas kita sebagai hambanya, untuk terus bertaqwa dan beribadah pada-Nya.

Rate this article!
Fatimah si Anak Sholehah,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: 

I am a housewife. Has a husband and two sons. My job every day is as a teacher. I was born from a religious family, maintaining norms and decency. The habit of living above the norm is what makes me feel happy with my family.

2 Responses

  1. author

    archer3 years ago

    siapa yg bertawakal kpda Allah maka akan diberi rizki dari jalan yang tak disangka2

    Reply
    • author
      Author

      Alfathun Nisaa3 years ago

      Surah at-Thalaq…. Amin ya Allah 🙂

      Reply

Leave a Reply