Berpikir dan Peluang Berbuat Dosa

Suatu ketika Walid bin Mughirah, Salah satu pemuka Quraisy dari suku Makhzum yang terkenal dengan kekayaan dan kehebatannya dalam bersyair. Dia adalah ayah Khalid bin Walid dan paman dari Abu Jahal bin Hisyam bin Mughirah. Kala itu dia mendatangi Nabi saw untuk mendengarkan al-Quran. Rasulullah saw kemudian membacakan beberapa ayat di surat Ghafir, hingga Walid merasa sangat tersentuh dengan bacaan itu.

Usai mendengarkan al-Quran, Walid bin Mughirah mendatangi masyarakat Quraisy, dan berkata “Demi Allah, baru saja aku mendengar dari Muhammad sebuah ucapan yang bukan termasuk bahasa manusia, bukan pula bahasa jin. Sungguh sangat manis dan indah (untuk didengar). Bagian atasnya berbuah, bagian bawahnya sangat lebat. Ucapan yang sangat mulia dan tidak ada yang lebih mulia darinya.”

Kabar penyampaian Walid ke orang Quraisy sampai kepada Abu Jahal. Dia pun mendatangi al-Walid untuk menghilangkan pengaruh kekaguman terhadap al-Quran dari pamannya, “Wahai pamanku, seluruh kaummu hendak mengumpulkan harta mereka untuk diserahkan kepadamu. Karena engkau telah mendatangi Muhammad untuk mendengarkan ucapannya.”

Walid pun marah, dan membantah, ”Bukankah semua orang Quraisy tahu bahwa aku adalah orang yang paling kaya dan dan paling banyak anaknya?”

“Tapi tolong sampaikan kepada masyarakat Quraisy bahwa engkau mengingkari ucapan Muhammad,” pinta Abu Jahal.”

“Lalu apa komentar yang bisa aku berikan? Bukankah aku ini orang yang paling paham tentang syair?” Kemudian Walid memuji-muji Al-Quran yang telah dia dengar dari Nabi Muhammad saw.”

“Pokoknya, Quraisy tidak bakalan ridha sampai engkau memberi komentar buruk untuk Al-Quran,” tegas Abu Jahal.

“Baik, tolong beri aku waktu untuk berpikir,” pinta Walid.

Dia pun berpikir. Berpikir, apa kira-kira komentar miring yang tepat untuk ucapan Muhammad. Dia terus berpikir. Berpikir untuk membuat makar, agar orang tidak lagi memberi simpati kepada ucapan Muhammad.

Saat dia belum menemukan jawabannya, dia selalu merengut, bermuka masam. Hingga akhirnya dia menemukan kata yang tepat untuknya. Ketika itu, dia baru mulai merasa sombong, dan menolak kebenaran, “Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri. Lalu dia berkata, ‘(Al-Quran) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari tukang sihir terdahulu). Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.’” (QS. al-Mudatstsir: 23 – 25)

Dua kalimat kunci yang ditemukan si Walid untuk memberikan komentar miring terhadap Al-Quran:

“al-Quran ini adalah sihir yang dipelajari Muhammad dari penyihir sebelumnya. Al-Quran ini hanya ucapan manusia, bukan wahyu.”

Bagaimana ancaman balasan yang Allah berikan untuk Walid,

”Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar. Tahukah kamu, Apakah (neraka) Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Dan di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). (QS. al-Mudatstsir: 26 – 30).

Upaya Al-Walid bin Mughirah dalam bentuk berfikir ternyata bukan amal sia-sia. Allah beri nilai amal ini dan Allah catat sebagai amal kejahatan.

Apa yang dapat kita petik dari kisah sahabat yang dotrehkan dalam sejarah Islam ini, sangat banyak, tapi yang terpenting adalah pikiran. Pikiran ternyata tidak semata-mata menjadi format yang layak diabaikan. Pikiran manusia, Anda, Kita, haruslah sedini mungkin selalu positif. Waktu yang diberikan kepada manusia untuk mempersiapkan langkah dengan berpikir juga memberikan waktu kepada syetan untuk menggoda.

Semoga Bermanfaat

*Inspirasi dari tulisan muslimah.or.id

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

I am a housewife. Has a husband and two sons. My job every day is as a teacher. I was born from a religious family, maintaining norms and decency. The habit of living above the norm is what makes me feel happy with my family.