Berpakaian Ala Nabi saw; Panduan Muslimah

Penghargaan Islam terhadap perempuan jauh melebihi penghargaan dari aturan dan agama papun di dunia. Kehadiran Islam bukan hanya mengatur masalah agama saja, tapi juga termasuk masalah sosial diantaranya adalah pakaian. Pengaturan pakaian pun tidak hanya terkain pakaian muslimah saja tapi juga termasuk pakaian pria. Untuk pakaian muslimah, islam mengatur dengan ketentuan hijab, yaitu bagaimana perempuan memakai pakaian dengan menutup aurat sesuai petunjuk syariah yang aspeknya juga termasuk masalah sosial juga.

Lahirnya mode pakaian termasuk pakaian muslimah, sedikit demi sedikit membawa pada kecenderungan mengikuti mode dianding dan melepas ketentuan syariah itu sendiri. Banyak muslimah berhijab sekaligus berpakaian ketat. Padahal keduanya bisa berjalan seiring sejalan, yaitu memakai pakaian sesuai syariat dan mengikuti perkembangan mode. Untuk itu, perlu diketahui beberapa cara berpakaian ala Nabi saw yang harus diketahui.

Berpakaian ala Nabi saw, maksudnya adalah mengikuti aturan berpakaian seperti yang telah digariskan Nabi saw melalui sabdanya. Dengan mengetahui hal itu, kemudian menjadi pedoman dalam menentukan mode pakaian nantinya.

Pertama, perlu diketahui bahwa perintah berpakaian dengan menutup aurat merupakan perintah dari Allah swt secara langsung. Tujuan itu dengan tegas disebutkan dalam surah al- Ahzab: 59. Untuk memenuhi tujuan tersebut, maka Nabi saw menguraikan cara berpakaian berdasarkan hal itu.

Kedua: Pakaian muslimah itu harus menutup seluruh badannya kecuali wajah dan kedua telapak tangan (lihat al-Ahzab: 59 dan an-Nuur: 31). Selain leher dan lain-lain, maka tidak boleh ditampakkan walaupun cuma sebesar uang logam, apalagi malah buka-bukaan. Bahkan sebagian ulama mewajibkan untuk ditutupi seluruhnya tanpa kecuali-red.

Kedua: pakaian muslimah tidak mencolok, menarik perhatian. Tujuan utamanya agar tidak menjadi fitnah dari siapa yang melihat baik laki-laki maupun perempuan. Pakaian yang tidak mencolok itu juga termasuk perhiasan sebagai penghias pakaian yang dikenakan.

Ketiga: pakaian muslimah harus longgar dalam artian tidak ketat, tidak memperlihatkan tonjolan dalam tubuh sehingga membuat siapa yang melihat mengira-ngira dari apa yang dilihatnya.

Keempat: tidak memakai wangi-wangian yang bisa memancing penciuman laki-laki. Bahkan dengan wangi-wangian ternyata bisa memancing syahwat lawan jenis. “Jika salah seorang wanita diantara kalian hendak ke masjid, maka janganlah sekali-kali dia memakai wewangian.” Demikian sabda Nabi saw yang diriwayatkan oleh Muslim ra.

Kelima: Tidak menyerupai pakaian laki-laki seperti memakai celana panjang, kaos oblong dan semacamnya. Nabi saw melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki (HR. Bukhori)

Keenam: pakaian orang kafir adalah pakaian yang tidak peduli dengan aturan syariah. Dari pakaian seperti ini mode kemudian dibentuk, mode itulah kemudian ditiru dan dikemas dengan memenuhi syarat berpakaian ala Nabi saw, namun hal itu tetap dilarang dalam agama.

Ketujuh: pakaian muslimah yang dipakai bukan untuk mencari popularitas, menjadi terkenal, atau sekedar agar mencuri perhatian. Perlu dipahami, bahwa popularitas yang kekal bukan berasal dari tampilan luar, fisik, dll, tapi dari sesuatu yang bukan fisik seperti kecerdasan dll.

Demikian tujuh cara berpakaian ala Nabi saw yang kami rangkum secara ringkas dalam tulisan ini. Semoga hal ini menjadi perhatian dan bermanfaat bagi kita semua.

Tags:
author

Author: 

I am a housewife. Has a husband and two sons. My job every day is as a teacher. I was born from a religious family, maintaining norms and decency. The habit of living above the norm is what makes me feel happy with my family.