Baik Buruk Wanita yang Bekerja

Tulisan ini terinspirasi dari kejadian keluarga terdekat penulis. Dia seorang suami yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil. Isterinya seorang ibu rumah tangga. Kehidupan dijalani sepenuh hati meski hanya pas-pasan dari sisi ekonomi. Pagi dia yang kebetulan paman saya itu berangkat bekerja, menjelang sore sampai di rumah, makan siang, istirahat siang. Rutin demikian (baca: makan bersama keluarga membuat suami betah).

Sampai suatu hari, isterinya merasa jenuh. Dia ingin memiliki kesibukan lain selan menjadi ibu rumah tangga. Dia lalu minta izin ke suaminya agar bekerja sebagai guru honorer di sekolah Negeri. Awalnya, tidak mendapat izin karena jarak sekolah yang lumayan jauh, namun karena sedikit memaksa, akhirnya diizinkan.

Lima tahun berlalu, tiba-tiba isterinya masuk kategori guru honorer yang berhak menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Suaminya menyarankan untuk memikirkan baik buruk wanita yang bekerja, dan menegaskan agar dia tidak usah bekerja. Namun, sang isteri bersikeras. Singkat cerita, setelah melalui prosedur ini itu, akhirnya resmilah dia menjadi Pegawai Negeri Sipil seperti suaminya. Otomatis, waktu pulang kerja, sama dengan suaminya, yaitu sore hari.

Kondisi keluarga sudah bisa diprediksi. Anak terbengkalai, sepulang dari kantor tidak ada makanan tersedia. Isteri yang juga masih capek harus menyiapkan makan siang. Sedikit demi sedikit pertengkaran yang dulu kecil, menjadi besar. Ego keduanya muncul, masing-masing merasa bertanggungjawab pada pekerjaannya dan lupa pada tanggungjawab utama dalam keluarga. Sedih karena pasangan ini akhirnya bercerai.

Sahabat Muslimah Indonesia, Islam sebagai agama rahmatan lil alamin mengatur semua hal, bahkan hal kecil sekalipun, apalagi soal wanita yang bekerja. Baik buruk wanita yang bekerja diatur sedemikian rupa dalam bentuk syarat, dan pedoman yang jelas. Satu hal yang menjadi kata kunci, Islam sangat memuliakan wanita. Sebelum datangnya Islam, wanita diperlakukan semena-mena. Pada masa jahiliyah, bayi perempuan dikubur hidup-hidup karena diapandang bahwa wanita hanya akan menyusahkan.

Islam menempatkan wanita pada posisi layak, memberikan hak-haknya dengan sempurna tanpa dikurangi sedikitpun. Islam memuliakan kedudukan kaum wanita, baik sebagai ibu, sebagai anak atau saudara perempuan, juga sebagai isteri. Pada poin yang terakhir ini, yaitu sebagai isteri, Rasulullah saw mewajibkan seorang suami untuk menafkahi isterinya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya, baik dari segi makanan, pakaian, dan sebagainya. Seorang isteri berhak mendapatkan apa yang ia butuhkan dengan cara meminta kepada suaminya, dan itu hak, sah (baca: kedudukan wanita dalam Islam).

Sahabat Muslimah, terkadang kita keliru melihat posisi wanita. Wanita sebagai ibu rumah tangga tidak dianggap sebagai wanita yang bekerja. Apalagi kampanye feminisme yang katanya memperjuangkan hak, memperjuangkan wanita harus sejajar dengan laki-laki, wanita tidak boleh dikekang, sampai akhirnya dari sinilah awal kemorosotan seorang wanita.

Wanita memiliki perbedaan dengan laki-laki. Wanita lemah lembut, laki-laki keras dan jantan. Jangan dibolak-balik. Dari sisi psikis juga demikian, wanita mudah tersinggung, temperamental, apalagi ketika masa haidh. Dari sisi naluri, wanita nalurinya ada pada perasaan, laki-laki ada pada akal.

Ilustrasi, gaya wanita yang bekerja

Ilustrasi, gaya wanita yang bekerja

Dari kesadaran ini, mari kita lihat baik buruk wanita yang bekerja. Wanita boleh saja bekerja, sepanjang, mendapat izin dari walinya, yaitu kerabat dari sisi garis keturunan, tali pernikahan, kerabat jauh, dan sisi pemimpin. Wanita juga diizinkan bekerja jika dalam pekerjaan memenuhi syarat pakaian secara syar’iy yang aman dari fitnah. Jika pekerjaan wanita memerlukan rute perjalanan, maka Islam menganjurkan adanya mahram. “Seorang wanita tidak boleh melakukan safar (perjalanan) kecuali bersama mahramnya.” Sabda Nabi saw.

Nah, dengan syarat itu, maka wanita boleh bekerja. Tentu, dengan syarat itu pula, maka pekerjaan wanita akan lebih baik yang sesuai dengan kondisi fisik, psiksis, dan nalurinya sebagai wanita. Misalnya, dokter, perawat, bidan, guru, menjahit, jual beli, dan masih banyak pekerjaan lainnya. Intinya, perhatikan tuntunan agama yang menempatkan kehormatan dan kemuliaan wanita. Jika tak ada pelanggaran, pekerjaan apapun akan baik.

Dari kisah nyata tadi, maka jelas wanita yang bekerja akan berdampak buruk bagi dirinya sendiri karena menyalahi aturan agama, dalam hal ini melawan penolakan suaminya untuk bekerja. Suami yang baik akan memiliki rasa tanggungjawab dan pasti tak akan membiarkan isterinya merasa sulit dalam pekerjaan seperti yang dia alami.

Wanita tak perlu silau dan menganggap pekerjaan hanya ada di luar. Di rumah pun bisa bekerja, apalagi sebaik-baik wanita adalah yang tinggal di rumah (baca: menyambut mesra suami, why not ?). Baik buruk wanita bekerja ada pada ketaatan menjalankan tuntunan agama yang menghendaki kehormatan bagi wanita.

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

I am a housewife. Has a husband and two sons. My job every day is as a teacher. I was born from a religious family, maintaining norms and decency. The habit of living above the norm is what makes me feel happy with my family.